Drama Kepelatihan Xabi Alonso: Dari Pemecatan Real Madrid ke Pendekatan Mengejutkan Frankfurt

Xabi Alonso menyaksikan pertandingan dengan serius dari pinggir lapangan Estadio Santiago Bernabéu

siaranbolaKarir kepelatihan Xabi Alonso berubah drastis dalam 233 hari. Mantan gelandang berkelas itu resmi meninggalkan Real Madrid. Keputusan “atas kesepakatan bersama” diumumkan klub. Ini terjadi usai kekalahan dari Barcelona di final Supercopa España. Namun, laporan eksklusif dari siaranbola mengungkap cerita berbeda. Sumber tepercaya menyebut ini adalah pemecatan nyata. Penyebabnya adalah hilangnya kendali Alonso di ruang ganti Bernabéu.

Hanya hitungan jam setelah pengumuman, spekulasi masa depannya bergulir. Kabar mengejutkan datang dari Bundesliga Jerman. Eintracht Frankfurt secara aktif mendekati pelatih berusia 44 tahun itu. Markus Krösche, direktur olahraga Frankfurt, sangat tertarik. Ia melihat Alonso sebagai solusi prestisius untuk kursi pelatih yang kosong. Berita bola terkini ini menjadi sorotan utama media Eropa.

BACA JUGA : Siaranbola – Real Sociedad Kalahkan Barcelona 2-1 dalam Laga Sengit di Anoeta

Kronologi Runtuhnya Otoritas Alonso di Madrid

Masa jabatan Alonso di Madrid sebenarnya berawal cemerlang. Tim meraih 13 kemenangan dari 14 laga awal musim ini. Namun, retak hubungan dengan pemain kunci muncul lebih awal. Titik kritis terjadi pada 26 Oktober 2025. Saat itu Madrid menang 2-1 atas Barcelona di El Clásico.

Alonso menarik Vinícius Júnior di menit ke-72. Reaksi sang bintang sangat dramatis dan publik. “Selalu aku! Aku akan pergi dari tim ini,” teriak Vinícius saat keluar lapangan. Ia kemudian meminta maaf kepada semua orang. Tapi permintaan maaf itu tidak ditujukan kepada Alonso. Insiden ini menjadi awal keretakan.

Dukungan Manajemen yang Pudar

Masalah membesar ketika manajemen Madrid tidak memberi sanksi tegas. Menurut analisis siaranbola, ini adalah pukulan telan bagi wibawa Alonso. Sumber internal klub mengonfirmasi hal tersebut. Momen itu menjadi awal hilangnya ruang ganti.

Insiden final Supercopa menjadi puncaknya. Usai kalah 3-2, Alonso mencoba mengatur pemainnya. Ia ingin mereka membentuk guard of honour untuk Barcelona. Tradisi ini baru saja dilakukan Madrid untuk Barca di semifinal.

Namun, usahanya sia-sia. Video viral menunjukkan Alonso memanggil pemain. Tidak ada yang bergerak menghampirinya. Kylian Mbappé justru mengarahkan rekan-rekannya ke arah lain. Ekspresi hampa Alonso menggambarkan segalanya. Otoritasnya sebagai pelatih benar-benar habis.

Analisis siaranbola: Mengapa Frankfurt Tertarik?

Mengapa Eintracht Frankfurt tertarik pada Alonso pasca-kegagalan di Madrid? Tim analisis siaranbola memberikan beberapa alasan kunci.

Pertama, catatan sukses Alonso di Jerman masih sangat gemilang. Ia membawa Bayer Leverkusen dari juru degradasi menjadi juara. Gelar Bundesliga 2023/24 diraih dengan cara tak biasa. Leverkusen tak terkalahkan sepanjang musim.

Kedua, konteks klub Frankfurt sangat berbeda dengan Madrid. Frankfurt adalah klub dengan proyek yang lebih jelas. Mereka mencari identitas permainan yang solid. Filosofi Alonso cocok dengan kebutuhan itu.

Tantangan Nyata di Deutsche Bank Park

Frankfurt saat ini berada di posisi ketujuh Bundesliga. Masalah utama mereka adalah pertahanan yang bocor. Tim telah kemasukan 39 gol dalam 18 pertandingan. Rekor itu termasuk yang terburuk di liga.

Gaya Alonso menekankan penguasaan bola dan transisi terorganisir. Filosofi itu bisa memperbaiki pertahanan Frankfurt. Namun, tantangannya tidak kecil. Karakter tim dan ekspektasi fans perlu diatur ulang.

Profil Singkat Xabi Alonso (Pelatih):

  • Kebangsaan: Spanyol

  • Umur: 44 tahun

  • Gaya Melatih: Possession-based, high pressing, terstruktur

  • Prestasi Puncak: Juara Bundesliga 2023/24 (tanpa kalah)

  • Karir Kepelatihan: Real Sociedad B (2019-2022), Bayer Leverkusen (2022-2024), Real Madrid (2025-2026)

Dilema Strategis sang Pelatih

Pilihan Alonso sekarang sangat krusial untuk masa depannya. Menerima tawaran Frankfurt bukan keputusan mudah. Setelah melatih raksasa seperti Madrid, ini bisa dianggap langkah mundur.

Namun, ada peluang emas di baliknya. Frankfurt menawarkan kanvas yang lebih bersih. Alonso bisa membangun tim sesuai filosofinya tanpa tekanan ekstrem. Berita transfer ini akan sangat mempengaruh karirnya.

Opsi Lain di Pasar Pelatih

Alonso masih memiliki pilihan lain. Beberapa klub elite Eropa masih mengawasinya. Liverpool dan Bayern München sering dikaitkan dengan namanya. Ia bisa menunggu lowongan musim panas nanti.

Namun, masa tunggu itu berisiko. Reputasinya baru saja ternoda oleh kegagalan di Madrid. Ia perlu membuktikan diri lagi secepatnya. Proyek Frankfurt bisa menjadi batu loncatan sempurna.

Pelajaran Berharga dari Kegagalan di Bernabéu

Pengalaman Alonso di Madrid memberikan pelajaran mahal. Utamanya tentang manajemen pemain bintang. Di Leverkusen, ia menghadapi pemain yang haus prestasi. Di Madrid, ia berhadapan dengan bintang ber-ego tinggi.

Dukungan manajemen juga faktor penentu. Florentino Pérez tidak memberikan dukungan penuh seperti pada pelatih sebelumnya. Alonso merasa hubungannya dengan presiden tidak pernah mesra.

Politik Internal Klub yang Rumit

Alonso juga belajar soal politik internal klub besar. Keputusannya sering harus melalui banyak filter. Konflik dengan pemain tidak diselesaikan dengan tegas oleh manajemen. Ini melemahkan posisinya sebagai pemimpin teknis.

Adaptasi gaya kepelatihan pun terlambat dilakukan. Alonso baru mencoba pendekatan lebih lunak di akhir masa jabatannya. Perubahan itu tidak cukup untuk menyelamatkan posisinya.

Proyeksi di Bundesliga: Cocokkah dengan Frankfurt?

Filosofi permainan Alonso sebenarnya cocok dengan kebutuhan Frankfurt. Tim butuh struktur pertahanan yang lebih solid. Mereka juga perlu konsistensi dalam performa.

Alonso terkenal dengan perencanaan taktis yang detail. Ia mampu meningkatkan performa pemain muda. Frankfurt memiliki banyak talenta muda yang bisa dibentuk.

Hambatan Budaya dan Ekspektasi

Namun, tantangan budaya bisa menjadi hambatan. Alonso perlu beradaptasi dengan lingkungan baru lagi. Ekspektasi fans Frankfurt juga berbeda dengan Leverkusen atau Madrid.

Keberhasilan di Frankfurt tidak akan diukur dengan gelar langsung. Namun, perbaikan performa dan gaya permainan adalah target utama. Alonso punya rekam jejak untuk itu.

Masa Depan Alonso dan Pasar Pelatih Eropa

Keputusan Alonso akan mempengaruhi dinamika pasar pelatih Eropa. Jika ia ke Frankfurt, lowongan pelatih menarik lainnya akan terbuka. Ini seperti permainan domino yang saling terkait.

Banyak analis, termasuk dari siaranbola, menyarankan Alonso mengambil jeda sejenak. Ia perlu merefleksikan kegagalan di Madrid. Pelajaran dari sana harus menjadi fondasi langkah selanjutnya.

Penutup: Peluang dalam Krisis

Kegagalan di Madrid bukan akhir dari karir kepelatihan Alonso. Banyak pelatih hewal mengalami fase serupa. Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola juga pernah dipecat.

Frankfurt bisa menjadi tempat pembuktian diri yang ideal. Tekanannya lebih kecil, tetapi prestasinya tetap terpantau. Keputusan dalam beberapa hari ke depan akan menentukan jalan karirnya.

Dalam dunia sepak bola, kesempatan kedua adalah kesempatan untuk menulis ulang sejarah. Alonso memiliki kemampuan dan pengalaman untuk bangkit. Seluruh mata pecinta berita bola kini tertuju padanya.