Membedah Kontroversi VAR di Lima Liga Top Eropa: Apakah Premier League yang Terburuk?

siaranbola – Penggemar sepak bola Inggris pasti sering membaca BERITA SEPAK BOLA tentang drama VAR. Hampir setiap pekan, SIARANBOLA memberitakan kontroversi keputusan wasit yang memicu amarah. Media sosial langsung panas. Para manajer marah-marah di sidang pers. Fans merasa wasit sengaja merugikan tim kesayangan mereka.

Pertanyaan klasik pun muncul di benak pecinta sepak bola Indonesia. “Apakah VAR di liga-liga top Eropa lainnya lebih baik?” “Apakah Premier League memang yang paling kacau dalam urusan teknologi ini?”

Jawabannya mungkin akan mengejutkan Anda. Tidak juga. Bahkan, berdasarkan data terbaru UEFA, Premier League justru punya tingkat intervensi VAR terendah. Namun, angka rendah ini tidak berbanding lurus dengan tingkat kepuasan. BERITA SEPAK BOLA terkini dari SIARANBOLA akan mengupas tuntas perbandingan VAR di lima liga elite Eropa.

Premier League: Paling Rendah Intervensi, Paling Tinggi Drama

Banyak yang mengira VAR di Inggris kacau balau. Asumsi itu muncul karena kesalahan terus terjadi. Namun, statistik resmi UEFA membantah anggapan tersebut.

Kepala perwasitan UEFA, Roberto Rosetti, membeberkan data mengejutkan. Premier League memiliki tingkat intervensi VAR terendah di Eropa. Angkanya hanya 0.27 kali per pertandingan. Sebagai perbandingan, Liga Champions mencatat 0.45 intervensi per laga. Ligue 1 bahkan lebih tinggi, yaitu 0.47 per pertandingan.

Baca Juga: Bukayo Saka Teken Kontrak Baru di Arsenal hingga 2031, Jadi Pemain Bergaji Tertinggi The Gunners

Filosofi “Minimal Intervensi” ala Inggris

Secara filosofi, Premier League menerapkan pendekatan unik. Mereka hanya turun tangan untuk kesalahan yang clear and obvious alias sangat jelas dan nyata. Wasit di lapangan tetap menjadi pengambil keputusan utama. Pendekatan ini sejalan dengan semangat awal VAR.

Mengapa Tetap Berisik?

Lalu kenapa tetap ramai? Jawabannya terletak pada budaya media Inggris. Setiap keputusan wasit menjadi konsumsi publik luar biasa. Media Inggris terkenal “sadis” dalam mengkritik wasit. Frekuensi error di Premier League sebenarnya kecil. SIARANBOLA mencatat hanya satu error setiap 16 pertandingan. Angka ini hampir sama dengan Bundesliga (15,66 pertandingan). Namun, setiap error tersebut digoreng menjadi api besar. Tekanan publik di Inggris adalah yang tertinggi dibanding liga lainnya.

Bundesliga: Penolakan Paling Visual dari Fans Jerman

Jika di Inggris protes terjadi di studio TV, di Jerman protes terjadi di tribun. Bundesliga adalah liga dengan penolakan paling visual terhadap VAR.

Spanduk Protes di Setiap Stadion

Di setiap pertandingan, mudah menemukan spanduk raksasa. Tulisannya “Videobeweis abschaffen” yang berarti “Hapus VAR”. Spanduk itu menghiasi belakang gawang. Sebuah spanduk bahkan berbunyi, “Sepak bola dengan VAR itu seperti pacuan kuda dengan keledai.” Sindiran keras ini menunjukkan kekecewaan mendalam fans.

Keluhan Para Pelatih

Jurnalis Jerman, Stephan Uersfeld, menyebut VAR sebagai “impian seorang birokrat”. Teknologi ini justru menciptakan banyak keresahan baru. Menurut laporan BERITA SEPAK BOLA dari Jerman, 80% pelatih merasa waktu pemeriksaan VAR terlalu lama. Mereka menilai teknologi tidak benar-benar memperbaiki permainan. Ironisnya, tingkat intervensi di Jerman (0.38 per game) justru lebih tinggi dari Inggris. Fans membenci VAR, tapi frekuensi penggunaannya lebih sering.

La Liga: Ketimpangan Keputusan yang Mencolok

Beranjak ke Spanyol, masalah VAR memasuki dimensi berbeda. Di La Liga, persoalannya bukan hanya teknologi, tetapi juga keseimbangan keputusan.

Data Penalti yang Mencengangkan

Data Transfermarkt yang dianalisis ESPN mengungkap fakta mengejutkan. Sejak era VAR dimulai (musim 2018/19), Real Madrid mendapatkan 91 penalti. Pada periode sama, Barcelona hanya mendapat 43 penalti. Selisih 48 penalti ini adalah yang tertinggi di Eropa. BERITA SEPAK BOLA dari Spanyol mengonfirmasi ketimpangan ini memicu pertanyaan besar tentang konsistensi.

Perbandingan dengan Liga Lain

Sebagai perbandingan, rivalitas Manchester United vs Manchester City hanya berselisih 5 penalti. Di Italia, Juventus dan Inter berselisih tipis. Kolumnis BBC, Guillem Balague, menyatakan teknologi di Spanyol terasa “jauh dari emosi olahraga”. Keputusan VAR seringkali membuat keadaan semakin tidak jelas. Tingkat error di La Liga juga tinggi. Surat kabar Marca mencatat 10 error hanya dalam 18 pekan pertama liga.

Serie A: Fans Justru Ingin Lebih Banyak VAR

Situasi unik terjadi di Italia. Jika negara lain ingin VAR dikurangi, di Serie A fans justru menginginkan lebih banyak intervensi.

Ekspektasi Tinggi Fans Italia

Davide Chinellato dari La Gazzetta dello Sport menjelaskan fenomena ini. Fans Italia tidak bisa membayangkan sepak bola modern tanpa VAR. Mereka frustrasi ketika wasit di lapangan tidak menggunakan VAR. “Ekspektasi di Italia adalah setiap kesalahan jelas harus dikoreksi,” tulisnya. Liputan SIARANBOLA dari Italia menambahkan bahwa fans menuntut kesempurnaan.

Kontroversi Tetap Ada

Namun, Serie A tidak bebas masalah. Frustrasi tetap tinggi di kalangan pemain. Bek Napoli, Juan Jesus, mengeluh bahwa yang ada hanyalah kontroversi. Sulit bagi semua orang untuk tetap bergairah dengan sepak bola. Tingkat intervensi di Italia cukup tinggi, yaitu 0.44 per pertandingan. Angka ini membuktikan bahwa lebih sering intervensi tidak selalu berarti lebih baik.

Ligue 1: Tersering Intervensi, Tertinggi Error, Termahal Biayanya

Terakhir, Perancis mencatatkan rekor yang tidak membanggakan. Ligue 1 memegang predikat sebagai liga dengan intervensi VAR tertinggi sekaligus tingkat error tertinggi.

Biaya Fantastis yang Tidak Sebanding

Jurnalis L’Equipe mengungkapkan fakta mengejutkan. Sistem wasit termasuk VAR menghabiskan dana sekitar 25 juta euro per musim. Di tengah krisis keuangan dan runtuhnya hak siar TV, biaya ini menjadi beban berat. Para presiden klub mulai mempertanyakan efektivitas pengeluaran sebesar itu.

Kritik Pedas dari Pemain

Kapten Lyon, Corentin Tolisso, menyampaikan kritik tajam. “Ada kesalahan setiap akhir pekan. Kami membayar harga yang sangat mahal untuk level perwasitan ini,” ujarnya. BERITA SEPAK BOLA terbaru mengonfirmasi Ligue 1 berada dalam tekanan finansial terbesar terkait VAR. Dengan satu error setiap 11.65 pertandingan, biaya 25 juta euro terasa sangat sia-sia.

Kesimpulan Akhir: Sakit Kepala yang Sama dengan Obat Berbeda

Lalu, apakah VAR di liga lain lebih baik? Jawaban tegasnya adalah TIDAK. Setiap liga memiliki problematika sama, hanya dengan kemasan berbeda.

Satu Bahasa Teknis yang Diperlukan

Roberto Rosetti mengingatkan kita untuk kembali ke tujuan awal VAR. “Kita tidak bisa terus melanjutkan intervensi VAR yang mikroskopis. Kita cinta sepak bola apa adanya,” tegasnya. Masalah utamanya bukan pada teknologi, melainkan pada interpretasi. Apa yang dianggap handball di Premier League bisa jadi penalti di La Liga. Rosetti mendesak seluruh Eropa berbicara dalam “satu bahasa teknis” yang sama.

Pembelajaran untuk Pecinta Sepak Bola Indonesia

Untuk kita para penonton di Indonesia, mungkin ada hikmah tersembunyi. Meskipun Premier League sering menjadi bulan-bulanan kritik, pendekatan “minimal intervensi”-nya justru paling masuk akal. Di tengah kegilaan interpretasi di seluruh Eropa, pendekatan Inggris mungkin yang paling waras.

Sepak bola tetaplah tentang emosi. Teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah menghilangkan kontroversi. Selama masih ada manusia yang memutuskan, perdebatan tidak akan pernah benar-benar hilang.

Tetaplah setia mengikuti BERITA SEPAK BOLA terkini dan analisis mendalam seputar dunia si kulit bundar. Dapatkan informasi akurat dan tercepat hanya di SIARANBOLA, sumber terpercaya Anda untuk berita sepak bola dunia. Jangan lewatkan juga update eksklusif melalui halaman BERITA SEPAK BOLA  yang kami sajikan setiap hari untuk Anda.