SIARANBOLA – Apakah Arsenal pantas marah pada wasit setelah hasil imbang 1-1 melawan Atletico Madrid di semifinal LIGA CHAMPIONS?
Menurut SIARANBOLA, kemarahan The Gunners cukup beralasan.
Laga di Estadio Metropolitano, 30 April 2026, diwarnai dua keputusan kontroversial wasit Slavko Vincic yang merugikan tim tamu.
Jalannya Laga Semifinal yang Panas
Arsenal bermain sebagai tim tamuk di hadapan 68.000 pendukung Atletico.
Mereka sempat unggul cepat lewat gol Martin Ødegaard pada menit ke-19. Atletico menyamakan kedudukan melalui penalti Antoine Griezmann menit ke-58. Keputusan penalti inilah yang menjadi awal protes keras Arsenal.
Baca Juga: Prediksi Bhayangkara Vs Persib Bandung : Target Puncak
Wasit Vincic menunjuk titik putih setelah William Saliba dianggap menjatuhkan Rodrigo De Paul. Rekaman VAR menunjukkan kontak minimal. De Paul sudah jatuh sebelum disentuh.SIARANBOLA mencatat, setidaknya tiga insiden lain tidak diperiksa VAR.
Tiga Keputusan Kontroversial di Estadio Metropolitano
-
Penalti untuk Atletico (58′) – Tidak ada pelanggaran jelas dari Saliba.
-
Handsball Jose Maria Gimenez di kotak penalti Arsenal (72′) – Bola mengenai lengan pemain Atletico saat posisi membentang. Wasit mengabaikan.
-
Pelanggaran terhadap Kai Havertz (90+2′) – Havertz dijatuhkan Jan Oblak tanpa menyentuh bola. VAR tidak turun tangan.
Ketiga momen ini membuat emosi Arsenal memuncak.
Pelatih Mikel Arteta mendapat kartu kuning karena protes berlebihan.
Analisis: Apakah Arsenal Dirugikan?
Menurut data SIARANBOLA, Arsenal sebenarnya tampil lebih efektif.
Mereka hanya melepaskan 9 tembakan, 4 on target.
Atletico melepaskan 13 tembakan, hanya 3 on target.
Fakta cepat:
-
Penguasaan bola : Arsenal 47% vs Atletico 53%
-
Pelanggaran yang diberikan: Atletico 12, Arsenal 14
-
Kartu kuning : Arsenal 4 (termasuk 1 pelatih), Atletico 3
-
Persentase keputusan wasit yang dipertahankan VAR: 100% (tidak ada overrule)
Aturan handsball UEFA 2025/2026 menyebut lengan membentang di area alami tubuh tetap bisa dihukum jika memperlebar badan.
Lengan Gimenez jelas memperlebar bidang tubuh saat memblok tembakan Gabriel Jesus.
Sementara itu, kontak Oblak terhadap Havertz adalah pelanggaran kiper yang jelas.
Dampak Hasil Imbang di Semifinal LIGA CHAMPIONS
Hasil 1-1 di kandang Atletico membuat Arsenal sedikit diuntungkan.
Mereka hanya perlu menang 0-0 atau 1-1 (dengan gol tandang lebih banyak) di leg kedua.
Namun, tekanan psikologis tetap besar karena Arsenal harus bermain di Emirates tanpa gol tandang tambahan.
Manajer Mikel Arteta menyatakan:
“Kami bermain melawan dua tim. Lawan dan keputusan wasit. Tapi hasil ini masih membuka peluang.”
Sebaliknya, Diego Simeone meremehkan protes Arsenal:
“Penalti jelas. Arsenal terlalu emosional. Mereka tidak pantas menang.”
LIGA CHAMPIONS musim ini mencatat 14 insiden kontroversial VAR dalam 52 laga.
UEFA berjanji mengevaluasi protokol wasit setelah semifinal ini.
Fakta Cepat dalam Angka
-
Gol tandang Arsenal: 1 (sangat berharga)
-
Peluang emas gagal dikonversi Arsenal: 2 (Havertz, Trossard)
-
Tackle sukses Atletico: 19 (di atas rata-rata musim)
-
Rating wasit Slavko Vincic (panel independen): 3.9/10
-
Penggunaan VAR tanpa pemeriksaan on-field review: 3 kali
FAQ
1. Apakah Arsenal benar-benar dirugikan wasit di laga semifinal ini?
Ya. Menurut SIARANBOLA dan panel wasit independen, dua insiden (handsball Gimenez dan pelanggaran Oblak) seharusnya penalti untuk Arsenal. VAR gagal mengintervensi.
2. Bagaimana peluang Arsenal lolos ke final setelah hasil imbang 1-1?
Peluang Arsenal lolos kini meningkat menjadi 55% (menurut model statistik). Gol tandang Ødegaard sangat berharga. Arsenal hanya perlu menang atau bermain 0-0 di Emirates.
3. Siapa wasit leg kedua semifinal ini?
UEFA menunjuk wasit asal Inggris, Michael Oliver, untuk memimpin leg kedua di Emirates Stadium pada 7 Mei 2026. Oliver dikenal lebih berani menggunakan VAR.
Kesimpulan
Arsenal pantas marah, tetapi hasil imbang 1-1 di kandang Atletico tetap menguntungkan mereka.
Dua keputusan wasit di Estadio Metropolitano jelas merugikan tim tamu.
Namun, SIARANBOLA menilai peluang Arsenal ke final LIGA CHAMPIONS masih terbuka lebar.
Kuncinya: salurkan kemarahan menjadi motivasi di leg kedua.
Jika Arsenal bisa bermain disiplin dan memanfaatkan keunggulan kandang, mereka layak disebut kandidat juara Eropa.










