SIARANBOLA – Roberto De Zerbi menghabiskan hampir £400 juta (Rp6 triliun) untuk membangun ulang Tottenham Hotspur, namun kekalahan 0-3 dari Brentford di pekan pembuka Premier League 2026/2027 membuktikan bahwa uang sebanyak apapun tidak bisa membeli mentalitas juara.
Spurs yang dua musim berturut-turut finis di posisi ke-17 masih menunjukkan kerapuhan yang sama di bawah tekanan. De Zerbi sendiri mengakui bahwa perannya lebih sebagai psikolog ketimbang pelatih taktik.
Baca Juga: Arsenal yang Penuh Percaya Diri Ingin Menyerang Gelar, Bukan Bertahan
Kekalahan Telak di Gtech Community Stadium
Tottenham memulai musim Premier League 2026/2027 dengan mimpi buruk. Bertandang ke markas Brentford, Sabtu (22/8/2026), Spurs dihantam kekalahan 0-3 yang menyakitkan.
Gol-gol Brentford tercipta sejak babak pertama. Keane Lewis-Potter membuka keunggulan pada menit ke-12 memanfaatkan kelengahan lini belakang Spurs. Vitaly Janelt menggandakan skor sebelum turun minum, sebelum Michael Kayode memastikan kemenangan 3-0 pada menit ke-49.
Bahkan, skor bisa lebih buruk andai Igor Thiago tidak gagal mengeksekusi penalti. Para suporter Tottenham yang datang dengan penuh optimisme mulai meninggalkan stadion sejak menit ke-49.
Statistik: Ini adalah kekalahan terbesar Tottenham di pekan pembuka Premier League dalam satu dekade terakhir.
Rp6 Triliun yang Belum Berbuah Hasil
De Zerbi telah mendapat dukungan finansial luar biasa dari manajemen Tottenham. Total belanja musim panas mencapai hampir £400 juta (sekitar Rp6 triliun).
Rekrutan anyar yang didatangkan antara lain:
| Pemain | Klub Sebelumnya | Harga |
|---|---|---|
| Sandro Tonali | Newcastle United | £100 juta |
| Matheus Fernandes | West Ham United | £85 juta |
| Jan Paul van Hecke | Brighton & Hove Albion | £52 juta |
| Andrew Robertson | Liverpool | Gratis |
| Marcos Senesi | Bournemouth | Gratis |
De Zerbi memberikan debut kepada empat rekrutan barunya: Andrew Robertson, Marcos Senesi, Jan Paul van Hecke, dan Sandro Tonali. Namun, tidak satupun dari mereka tampil membedakan.
Tonali, yang didatangkan dengan harga £100 juta, bahkan sepenuhnya dikalahkan oleh Mamadou Sangare dari Brentford dalam duel-duel lini tengah. Kontribusi terbaiknya hanya satu tembakan yang melambung di atas mistar, yang justru disambut siulan dari suporter sendiri.
Mentalitas Pecundang yang Tak Hilang oleh Uang
Inilah inti dari masalah Tottenham: mentalitas pecundang (losing mentality) yang mengakar.
Spurs dua musim berturut-turut finis di posisi ke-17 Premier League dan nyaris terdegradasi. Tiga pelatih silih berganti. Thomas Frank, Igor Tudor, hingga Roberto De Zerbi, namun masalah yang sama tetap muncul.
Pertandingan melawan Brentford memperlihatkan bukti nyata:
-
Rapuh di bawah tekanan: Spurs langsung hancur begitu Brentford menekan
-
Kalah dalam duel fisik: De Zerbi mengakui timnya “menderita dalam duel” dan “tidak bertarung dengan cara yang benar”
-
Kehilangan organisasi: Tidak ada pressing, tidak ada daya juang yang terlihat
“Bad game. We lost and suffered the difference in the duels. It was the key of this game. We didn’t fight in the right way.” Roberto De Zerbi kepada BBC Sport
De Zerbi memang sudah memperingatkan sebelumnya. Ketika ditunjuk pada Maret lalu dengan tugas menyelamatkan Spurs dari degradasi, ia mengakui bahwa perannya lebih sebagai psikolog daripada pelatih taktik.
“Sekarang pekerjaan saya bukan melatih gaya main, dengan atau tanpa bola, tetapi mencoba memberikan apa yang pemain butuhkan dalam hal mentalitas,” ujar De Zerbi beberapa waktu lalu.
Namun, bahkan setelah belanja besar-besaran, pola lama tetap terulang.
Mengapa Uang Tidak Cukup?
Kasus Tottenham mengajarkan pelajaran berharga: mentalitas tim tidak bisa dibeli.
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Budaya kalah | Dua musim berturut-turut di posisi 17 menciptakan pola pikir pasrah |
| Tekanan langsung | Pemain baru belum cukup waktu beradaptasi dengan tuntutan Premier League |
| Kebugaran fisik | Banyak pemain baru bergabung setelah Piala Dunia dan belum fit optimal |
| Kurang kepemimpinan | Tidak ada figur di lapangan yang mampu mengangkat moral saat tertinggal |
De Zerbi memang mengakui kondisi fisik sejumlah pemain belum optimal karena beberapa baru bergabung setelah Piala Dunia. Namun ia menegaskan bahwa hal itu tidak bisa menjadi alasan untuk membenarkan penampilan buruk secara keseluruhan.
FAQ – Pertanyaan Populer
1. Berapa total uang yang sudah dikeluarkan Tottenham di bawah De Zerbi?
Tottenham telah menghabiskan hampir £400 juta (setara Rp6 triliun) untuk membangun ulang skuad. Belanja ini mencakup pembelian Sandro Tonali (£100 juta), Matheus Fernandes (£85 juta), Jan Paul van Hecke (£52 juta), serta dua pemain gratis yaitu Andrew Robertson dan Marcos Senesi.
2. Apa penyebab utama kekalahan Tottenham dari Brentford?
Penyebab utamanya adalah masalah mentalitas dan fisik. De Zerbi mengakui timnya kalah dalam duel-duel fisik dan tidak bertarung dengan cara yang benar. Spurs juga kehilangan organisasi permainan, pressing, dan daya juang sejak menit-menit awal. Beberapa pemain baru juga belum mencapai kebugaran optimal karena baru bergabung setelah Piala Dunia.
3. Bisakah Tottenham bangkit setelah kekalahan ini?
Secara matematis, musim masih panjang. Namun, kekalahan ini menunjukkan bahwa masalah mendasar Tottenham belum terpecahkan. De Zerbi harus kembali berperan sebagai “psikolog” untuk memperbaiki mentalitas tim. Jika pola ini terus berlanjut, Spurs berpotensi mengulangi mimpi buruk dua musim berturut-turut finis di posisi ke-17.
Kesimpulan
Roberto De Zerbi dan Tottenham Hotspur telah belajar pelajaran mahal di pekan pembuka Premier League 2026/2027. Uang sebesar £400 juta tidak bisa membeli mentalitas juara.
Kekalahan 0-3 dari Brentford bukan sekadar soal taktik atau kebugaran fisik. Ini adalah cerminan dari budaya kalah yang sudah mengakar di tubuh Spurs, sebuah masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menebar cek di bursa transfer.
De Zerbi kini menghadapi tantangan terbesarnya: mengubah karakter dan mentalitas sebuah tim yang sudah dua musim berturut-turut nyaris terdegradasi. Apakah ia mampu melakukannya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Bagaimana pendapat Anda? Apakah Tottenham bisa bangkit di bawah De Zerbi atau justru akan kembali terpuruk? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!










