Manchester United Kalah 3-2 Setelah Unggul 2-0: Rekor 50 Tahun di Old Trafford Hancur, Carrick Mengaku Bertanggung Jawab

SIARANBOLA Manchester United tersingkir dari Carabao Cup setelah kalah 3-2 dari Brighton di Old Trafford, Kamis dini hari WIB (17/9/2026). Kekalahan ini terasa jauh lebih pahit dari sekadar tersingkirnya satu kompetisi.

Tim asuhan Michael Carrick sudah unggul 2-0 dalam 10 menit pertama lewat gol Shea Lacey dan Mason Mount. Namun Brighton membalas melalui Charalampos Kostoulas, Pascal Gross, dan Maxim De Cuyper. Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, United kalah di kandang sendiri setelah memimpin dua gol.

Baca Juga: Tajam dan Jadi Pembeda, Kenapa Carlos Espi Terus Cadangan, Wahai Mourinho?

Carrick menyebut hasil ini “tidak bisa diterima” dan mengaku bertanggung jawab penuh. “Kami memiliki pertandingan persis di posisi yang kami inginkan, lalu membiarkannya lepas,” kata Carrick setelah laga. “Saya bertanggung jawab atas itu, terutama untuk performa di akhir babak kedua. Itu tanggung jawab saya”.

Tetapi dalam sesi yang sama, Carrick juga mengatakan bahwa dirinya tidak merasa tertekan. “Tekanan tidak mengganggu saya sedikit pun,” ujarnya kepada Manchester Evening News. Dua pernyataan ini — bertanggung jawab penuh dan tidak merasa tertekan =, menciptakan ketegangan yang sulit diabaikan, terutama ketika rekor 50 tahun baru saja runtuh di hadapan pendukung sendiri.

Apa yang Terjadi di Old Trafford?

Jalan Pertandingan: Dari 2-0 dalam 10 Menit ke Kekalahan 3-2

Pertandingan dimulai dengan skenario terbaik yang mungkin dibayangkan Carrick. Pada menit kedelapan, Shea Lacey — pemain akademi berusia 19 tahun yang menjalani start pertamanya untuk tim senior — mencetak gol spektakuler dari tepi kotak penalti. Dua menit kemudian, Mason Mount menggandakan keunggulan setelah memanfaatkan rebound dari tembakan Marcus Rashford.

Namun setelah itu, United berhenti bermain. Menurut data The Athletic, setelah tendangan bebas Rashford pada menit ke-12, United tidak menciptakan satu pun tembakan lagi di babak pertama. Brighton justru mengambil inisiatif, melepaskan enam tembakan sebelum Kostoulas akhirnya memperkecil kedudukan di masa injury time babak pertama.

Di babak kedua, United tampak kehilangan arah. Pascal Gross menyamakan kedudukan pada menit ke-65, memanfaatkan celah di antara bek tengah Ayden Heaven dan Leny Yoro. Empat menit kemudian, Maxim De Cuyper mencetak gol kemenangan melalui serangan cepat yang melewati setengah tim United.

Kapan Terakhir Kali Manchester United Kalah di Kandang Setelah Memimpin 2-0?

Terakhir kali Manchester United kalah di Old Trafford setelah memimpin dua gol adalah pada September 1976 — kekalahan 3-2 dari Tottenham Hotspur. Saat itu, Sir Alex Ferguson masih melatih St Mirren di Skotlandia, jauh sebelum era kejayaan United yang kemudian berlangsung lebih dari dua dekade.

Sejak Ferguson pensiun pada 2013, United telah 146 kali memimpin 2-0 di Old Trafford. Sebanyak 143 kali berakhir kemenangan, dua kali seri (melawan Sevilla dan Everton), dan kini satu kali berakhir dengan kekalahan. Brighton menjadi tim pertama yang berhasil membalikkan situasi tersebut sejak 1976.

Mengapa Kekalahan Ini Berbeda dari Kekalahan Biasa?

Data yang Berbicara: 146 Kali Memimpin 2-0, Baru Sekali Kalah

Kekalahan ini bukan sekadar statistik. Rekor 50 tahun tersebut bertahan melalui berbagai era — dari dominasi Ferguson, masa transisi David Moyes dan Louis van Gaal, hingga periode Ole Gunnar Solskjaer dan Erik ten Hag. Semua pelatih tersebut, dengan segala keterbatasannya, setidaknya tidak pernah kehilangan keunggulan dua gol di kandang sendiri.

Fakta bahwa rekor ini runtuh di bawah Carrick — pelatih yang sebelumnya dipuji karena membawa United finis ketiga dan kembali ke Liga Champions pada musim lalu — menunjukkan bahwa masalahnya lebih dalam dari sekadar satu pertandingan buruk.

Tiga Kekalahan dalam Enam Pertandingan — Pola yang Mengkhawatirkan

United telah kalah tiga kali dalam enam pertandingan di semua kompetisi musim ini. Kekalahan dari Brighton terjadi hanya beberapa hari setelah United kalah 1-0 dari Manchester City di derby — pertandingan di mana City bermain dengan 10 orang selama lebih dari satu jam.

Kedua kekalahan tersebut mengikuti pola yang mirip. Melawan City, United tidak mampu memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Melawan Brighton, United tidak mampu mempertahankan keunggulan dua gol. Dalam kedua kasus, United gagal mengendalikan pertandingan setelah berada dalam posisi menguntungkan.

Carrick Mengaku Bertanggung Jawab — Tetapi Mengapa Ia Tidak Merasa Tertekan?

Pernyataan Carrick Setelah Pertandingan

Dalam konferensi pers setelah laga, Carrick menyampaikan dua hal yang tampak bertentangan:

Pertama, ia menerima tanggung jawab penuh. “Tim ini tanggung jawab saya. Kalau kami menang, orang bilang saya bekerja dengan baik. Kalau kami tidak menang atau tidak mendapatkan hasil, sebagian besar itu tanggung jawab saya. Saya menerima itu,” katanya.

Kedua, ia membantah merasa tertekan. “Tekanan tidak mengganggu saya sedikit pun. Saya paham apa yang terjadi di luar dan bagaimana dunia ini bekerja, tetapi itu tidak mengganggu saya”.

Mengapa Kontradiksi Ini Penting bagi Masa Depan Carrick

Kedua pernyataan ini tidak harus bertentangan. Seorang pelatih bisa menerima tanggung jawab tanpa merasa tertekan secara personal. Namun bagi para penggemar yang baru saja menyaksikan rekor 50 tahun hancur, pernyataan “tidak merasa tertekan” bisa terbaca sebagai ketidakpekaan terhadap gravitasi situasi.

Yang lebih penting, mantan pemain Aston Villa Gabby Agbonlahor sudah memperingatkan bahwa Carrick bisa saja kehilangan pekerjaannya pada bulan Oktober jika hasil tidak segera membaik. United dikabarkan telah memasukkan Antonio Conte dalam daftar calon pengganti. Dengan kata lain, meskipun Carrick menyatakan dirinya tidak merasa tertekan, tekanan dari luar justru semakin nyata.

Akar Masalah: Bukan Sekadar Satu Pertandingan

Kelemahan di Lini Tengah dan Rotasi yang Gagal

Carrick membuat delapan perubahan dalam starting XI melawan Brighton. Keputusan ini mengungkap masalah kedalaman skuad yang serius. Meskipun United menginvestasikan £155 juta untuk gelandang pada musim panas, kombinasi Andrey Santos dan Youri Tielemans di lini tengah dikalahkan oleh gelandang Brighton yang lebih tenang dan terorganisir.

Tielemans sendiri mengakui kekalahan ini sebagai hal yang seharusnya tidak terjadi. “Kami memulai dengan sangat positif. Kami memimpin 2-0. Lalu kami kehilangan ritme,” ujarnya kepada MUTV. “Kami kebobolan dua gol di babak kedua dan kehilangan keunggulan itu, yang seharusnya tidak terjadi”.

Reaksi Pemain dan Fans: “What the F*** Was That?”

Ketika peluit akhir berbunyi, pemain United disambut dengan sorakan dan cemoohan dari tribun Old Trafford. Fans yang masih bertahan meneriakkan “What the f***ing hell was that?” saat para pemain berjalan menuju terowongan.

Marcus Rashford dan Diogo Dalot dilaporkan mendapatkan perlakuan khusus dari sebagian pendukung saat meninggalkan stadion, dengan sebagian fans bahkan menyerukan agar mereka hengkang dari klub. Carrick sendiri tidak menyembunyikan pemahamannya terhadap reaksi tersebut. “Saya sangat memahami perasaan para pendukung. Kamu harus menerimanya. Saya sepenuhnya menerima itu,” katanya.

Apa Hubungannya dengan Raheem Sterling dan Feyenoord?

Sterling di Feyenoord: 349 Menit, Nol Gol, Satu Assist

Raheem Sterling bergabung dengan Feyenoord sebagai agen bebas pada Februari 2026, setelah meninggalkan Chelsea. Pelatih Feyenoord Robin van Persie menyambut kedatangannya dengan antusias, menyebutnya sebagai “pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan”.

Namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Hingga laporan terakhir, Sterling hanya mencatat 349 menit bermain, tanpa gol, dengan satu assist. Feyenoord dilaporkan tidak berencana menawarkan perpanjangan kontrak, dan ada indikasi bahwa Van Persie sudah menyampaikan ketidakpuasan terhadap kebugaran serta kontribusi Sterling.

Gol terakhir Sterling terjadi saat ia masih bermain untuk Arsenal melawan Bolton pada September 2024 — hampir dua tahun sebelum pertandingan ini.

Pola yang Sama: Kesulitan Pemain Top Menemukan Kembali Performa

Kisah Sterling di Feyenoord dan krisis Manchester United di bawah Carrick sebenarnya mencerminkan pola yang sama dalam sepakbola modern: pemain atau pelatih yang pernah berada di level tertinggi kesulitan menemukan kembali momentum setelah serangkaian kepindahan atau perubahan lingkungan.

Sterling meninggalkan Manchester City pada 2022 setelah mencetak 131 gol dalam tujuh musim. Sejak saat itu, ia berkeliling dari Chelsea ke Arsenal (pinjaman) dan kini Feyenoord — tanpa pernah benar-benar menemukan tempatnya. Carrick, yang merupakan bagian dari tim United yang memenangkan Liga Champions di bawah Ferguson, kini menghadapi tantangan terberat dalam karier kepelatihannya yang masih muda.

Apa Selanjutnya untuk Manchester United?

Laga Krusial di Fulham

United akan bertandang ke Craven Cottage untuk menghadapi Fulham pada Minggu (20/9/2026) dalam lanjutan Premier League. Laga ini sudah dianggap sebagai pertandingan wajib menang bagi Carrick.

Fulham sendiri sedang berada di posisi ke-18 klasemen Premier League dan belum meraih hasil positif musim ini, sehingga ini menjadi kesempatan bagi United untuk bangkit. Namun secara head-to-head, United hanya kalah satu kali dari 23 pertemuan terakhir melawan Fulham — 17 menang dan 5 seri. Rekor tersebut seharusnya memberikan kepercayaan diri, tetapi dengan kondisi mental United saat ini, tidak ada yang bisa dianggap pasti.

Akankah Carrick Bertahan?

Carrick masih memiliki kontrak dan dukungan dari manajemen, tetapi situasinya bisa berubah dengan cepat. Laporan menyebutkan bahwa United saat ini belum berencana memecat Carrick, namun jika United kalah lagi di Fulham, situasinya bisa berubah drastis.

Carrick sendiri tetap optimistis. “Kami bisa membalikkan keadaan. Kami punya pemain-pemain bagus dan saat ini terasa buruk karena kami belum menjalani pekan yang baik,” ujarnya. “Tetapi itu tidak berarti kami tidak bisa memenangkan pertandingan sepakbola berikutnya dengan cepat”.

Kesimpulan

Manchester United baru saja mencatat kekalahan yang tidak pernah terjadi dalam 50 tahun terakhir: kalah di Old Trafford setelah memimpin dua gol. Shea Lacey dan Mason Mount memberi United keunggulan 2-0 dalam 10 menit, tetapi Brighton membalas tiga gol tanpa jawaban.

Michael Carrick mengaku bertanggung jawab, namun tetap menyatakan tidak merasa tertekan. Apakah ini ketenangan seorang pelatih yang percaya pada prosesnya, atau apakah ini pengingkaran terhadap realitas yang sudah terlihat jelas di lapangan? Pertandingan melawan Fulham pada akhir pekan akan menjadi ujian pertama — dan mungkin yang paling menentukan — bagi masa depan Carrick di Old Trafford.

Bagi pembaca yang ingin mengikuti perkembangan sepakbola terkini, kunjungi SIARANBOLA untuk berita, analisis, dan jadwal pertandingan terbaru.

5. FAQ

Apa yang terjadi dalam pertandingan Manchester United vs Brighton?
Manchester United kalah 3-2 dari Brighton di Carabao Cup meskipun sudah unggul 2-0 dalam 10 menit pertama lewat gol Shea Lacey dan Mason Mount. Brighton membalas melalui Charalampos Kostoulas, Pascal Gross, dan Maxim De Cuyper.

Kapan terakhir kali Manchester United kalah di kandang setelah memimpin 2-0?
Terakhir kali terjadi pada September 1976, ketika United kalah 3-2 dari Tottenham Hotspur di Old Trafford. Sejak itu, United tidak pernah lagi kehilangan keunggulan dua gol di kandang sendiri hingga pertandingan melawan Brighton pada September 2026.

Apakah Michael Carrick akan dipecat?
Saat ini manajemen Manchester United belum mengumumkan rencana pemecatan. Namun laporan menyebutkan bahwa kekalahan di Fulham pada akhir pekan dapat memicu perubahan besar, termasuk kemungkinan pergantian pelatih.

Bagaimana performa Raheem Sterling di Feyenoord?
Sejak bergabung pada Februari 2026, Sterling hanya mencatat 349 menit bermain dengan nol gol dan satu assist. Feyenoord dilaporkan tidak berencana memperpanjang kontraknya.

Mengapa Manchester United begitu mudah kehilangan keunggulan?
Beberapa faktor yang terlihat dari analisis pertandingan: kelemahan struktural di lini tengah setelah rotasi besar, ketidakmampuan mempertahankan intensitas setelah unggul, serta masalah kedalaman skuad yang membuat Carrick kesulitan mempertahankan performa konsisten.