SIARANBOLA – Liverpool memenangkan lima laga pembuka Premier League 2025/26 di bawah Arne Slot. Sepuluh bulan kemudian, Slot dipecat. Penggantinya, Andoni Iraola, tidak hanya dituntut meraih hasil, tetapi mengembalikan cara bermain yang membuat Anfield percaya lagi. Artikel ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di balik lima kemenangan itu, apa yang harus diubah Iraola, dan bagaimana kisah Raheem Sterling di Feyenoord menjadi cermin dari masalah yang sama: identitas tim lebih menentukan daripada nama besar di atas kertas.
Jawaban Singkat: Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Liverpool?
Lima kemenangan pembuka Liverpool di era Slot bukan tanda fondasi yang kokoh. Empat dari kemenangan itu diputuskan pada 10 menit terakhir atau lebih, dan tim hanya berada di peringkat kedelapan dalam Expected Points (xP) setelah enam pekan. Kemenangan menyembunyikan masalah struktural: Liverpool tidak menekan sebagai satu unit, mudah ditembus, dan membangun serangan terlalu lambat.
Slot dipecat pada akhir Mei 2026 setelah Liverpool finis kelima, 25 poin di belakang juara. Iraola masuk pada Juni 2026 dengan kontrak dua tahun, membawa gaya high-press dan vertical yang lebih agresif.
12 Bulan yang Mengubah Segalanya
Awal yang Terlihat Sempurna
Musim 2025/26 dimulai seperti mimpi. Liverpool mengalahkan Bournemouth — yang saat itu dilatih Iraola — di laga pembuka, lalu meraih empat kemenangan berikutnya. Publik mulai berbicara tentang “pertahanan gelar yang mulus”.
Namun, kemenangan-kemenangan itu tidak pernah benar-benar meyakinkan. Liverpool menjadi tim pertama dalam sejarah Premier League yang memenangkan empat pertandingan beruntun dengan gol penentu pada 10 menit terakhir atau lebih. Hasil datang, tetapi prosesnya rapuh.
Keretakan yang Muncul di Balik Kemenangan
Setelah enam pekan, Liverpool hanya berada di posisi kedelapan dalam Expected Points. Artinya, jumlah peluang berkualitas yang mereka ciptakan lebih kecil dibandingkan peluang yang diberikan kepada lawan. Data ini adalah sinyal yang sering diabaikan ketika rekor kemenangan masih terjaga.
Dari September 2025 ke atas, keretakan itu melebar. Liverpool kalah dari Crystal Palace, Galatasaray, dan Chelsea dalam rentang waktu singkat–. Pelatih Sunderland, Regis Le Bris, bahkan mengaku terkejut dengan ruang dan waktu yang diberikan Liverpool kepadanya. Striker Aston Villa, Ollie Watkins, menyebut garis pertahanan Liverpool “tidak kompak dan tidak bermain offside”.
Keruntuhan dan Pemecatan Slot
Masalahnya bukan sekadar hasil. Gaya bermain Liverpool menjadi sulit ditonton. Slot membangun tim yang menguasai bola, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Build-up lambat, prediktif, dan tanpa intensitas.
Kemarahan penggemar memuncak pada pertandingan kandang melawan Chelsea, ketika Liverpool mundur setelah unggul dan membuang keunggulan. Mohammed Salah secara terbuka menyerukan kembalinya “heavy metal football” ala Jurgen Klopp.
Slot dipecat pada 30 Mei 2026. Liverpool finis kelima, tanpa trofi, 25 poin di belakang Arsenal.
Iraola: Profil Pelatih yang Berbeda
Iraola bukan pelatih dengan nama besar seperti Klopp atau Slot saat pertama datang. Ia membangun reputasinya di Bournemouth, membawa klub kecil itu finis keenam dan lolos ke Europa League untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Di Bournemouth, Iraola dikenal karena keberanian bermain menyerang, pressing agresif, dan kemampuan mengembangkan pemain muda seperti Eli Junior Kroupi dan Alex Scott.
Kontraknya hanya dua tahun, lebih pendek dari biasanya, tetapi konsisten dengan pola kariernya. Dalam konferensi pers pertamanya, Iraola menyatakan: “Kita harus menjadi tim yang bekerja keras — intens, agresif, dan vertikal — sehingga semua orang bisa mengidentifikasi dan merasa nyaman mendukung tim ini”.
Apa yang Harus Diubah Iraola dari Warisan Slot?
Mengembalikan Intensitas Tanpa Kehilangan Kontrol
Salah satu alasan utama Liverpool memilih Iraola adalah gaya bermainnya yang lebih dekat ke Klopp daripada Slot. Iraola ingin timnya menekan tinggi, merebut bola cepat, dan menyerang langsung. Namun, di Bournemouth ia juga menunjukkan kemampuan beradaptasi: rata-rata penguasaan bolanya hanya 47,5 persen, jauh lebih rendah dari Slot (58,6 persen). Ini berarti Iraola tidak terobsesi dengan penguasaan bola; ia lebih peduli pada efisiensi penguasaan itu.
Tantangan pertama Iraola adalah mengubah mentalitas tim tanpa kehilangan struktur. Liverpool tidak bisa langsung bermain seperti Bournemouth karena kualitas pemainnya berbeda. Iraola harus menemukan keseimbangan antara intensitas dan kontrol.
Mengelola Transisi dari Possession ke Verticality
Di bawah Slot, Liverpool menguasai bola tetapi lambat dalam transisi. Iraola ingin sebaliknya: bola harus bergerak cepat ke depan, vertikal, dan langsung mengancam. Ini membutuhkan perubahan kebiasaan kolektif, bukan hanya instruksi taktis.
Salah satu pemain yang paling terdampak adalah lini tengah. Mereka harus terbiasa melepaskan bola lebih cepat dan bergerak tanpa bola lebih agresif. Proses ini biasanya memakan waktu, dan Iraola perlu kesabaran dari klub maupun penggemar.
Membangun Koneksi dengan Anfield
Iraola menyadari bahwa di Liverpool, gaya bermain bukan hanya soal taktik. Anfield bereaksi terhadap intensitas, keberanian, dan usaha. “Sepak bola, terutama di Liverpool, adalah tentang terhubung — terhubung dengan orang-orang, terhubung dengan pendukung kami,” ujarnya.
Ia tinggal di Formby, kawasan yang sama yang pernah ditinggali Klopp dan Brendan Rodgers. Ia sering terlihat bersepeda di rute pesisir dan sesekali muncul di pusat kota. Ini bukan hal kecil: pelatih Liverpool harus menjadi bagian dari kota, bukan hanya dari klub.
Raheem Sterling dan Feyenoord: Cermin dari Pencarian Identitas
Mengapa Sterling Memilih Feyenoord
Pada Februari 2026, Raheem Sterling bergabung dengan Feyenoord sebagai pemain bebas transfer setelah kontraknya dengan Chelsea diakhiri pada Januari. Ia berusia 31 tahun, pernah menjadi salah satu pemain sayap paling mahal dalam sejarah sepak bola Inggris, dan kini memulai babak baru di Eredivisie.
Keputusannya tidak didasari uang. Sterling bahkan meninggalkan sisa kontrak senilai lebih dari 300.000 pound per pekan di Chelsea. Ia memilih Feyenoord karena percakapan dengan pelatih Robin van Persie. “Setelah berdiskusi panjang dengan Robin, saya yakin Feyenoord adalah tempat di mana saya bisa merasa bahagia dan menjadi bagian penting tim,” kata Sterling.
Van Persie, Sterling, dan Logika “Organisasi di Atas Nama”
Van Persie menyambut Sterling dengan antusias: “Rekam jejaknya berbicara sendiri. Dia adalah pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan”. Tetapi di lapangan, prosesnya tidak mudah. Sterling baru mencetak assist pertamanya pada penampilan keempat, dan itu pun terjadi di laga yang berjalan ketat melawan Excelsior.
Feyenoord finis kedua di Eredivisie, 16 poin di belakang PSV yang mendominasi. Sterling bukan penyelamat; ia adalah bagian dari proyek yang lebih besar. Ini persis seperti yang dihadapi Iraola di Liverpool: nama besar dan reputasi tidak cukup. Yang menentukan adalah bagaimana organisasi bekerja di sekitar individu.
Apa yang Bisa Dipelajari Liverpool dari Kasus Ini
Kisah Sterling di Feyenoord dan Iraola di Liverpool berbagi satu benang merah: lingkungan menentukan performa. Sterling di Chelsea tersesat dalam ketidakpastian taktis dan ekspektasi yang tidak realistis. Di Feyenoord, ia menemukan pelatih yang percaya padanya dan peran yang jelas. Liverpool di era Slot tersesat dalam penguasaan bola tanpa arah. Di era Iraola, kejelasan peran dan identitas bermain adalah prioritas.
Tabel: Perbandingan Pendekatan Slot vs. Iraola
| Dimensi | Arne Slot (Liverpool 2024–2026) | Andoni Iraola (Liverpool 2026–) | Implikasi untuk Liverpool |
|---|---|---|---|
| Filosofi utama | Possession-based, kontrol | High-press, vertikal, agresif | Perubahan budaya bermain |
| Rata-rata penguasaan bola | 58,6% | 47,5% (di Bournemouth) | Lebih sedikit bola, lebih banyak ancaman |
| Pendekatan pressing | Terkontrol, kadang pasif | Intens, kolektif, maju | Beban fisik lebih tinggi |
| Pengembangan pemain muda | Terbatas | Terbukti (Kroupi, Scott) | Peluang untuk skuad lebih muda |
| Hubungan dengan suporter | Merenggang pada musim kedua | Fokus pada koneksi | Anfield sebagai faktor kunci |
FAQ
Apakah Iraola pernah melatih Liverpool sebelumnya?
Tidak. Iraola melatih Rayo Vallecano, Mirandes, AEK Larnaca, dan Bournemouth sebelum bergabung dengan Liverpool pada Juni 2026. Namun, ia pernah menjadi lawan Liverpool: Bournemouth asuhannya kalah dari Liverpool pada laga pembuka musim 2025/26.
Mengapa Liverpool memecat Slot setelah hanya dua musim?
Slot memenangkan Premier League di musim pertamanya, tetapi musim keduanya berakhir dengan finis kelima, tanpa trofi, dan gaya bermain yang dianggap tidak lagi mencerminkan identitas Liverpool. Salah satu faktor eksternal yang signifikan adalah meninggalnya Diogo Jota pada Juli 2025 dalam kecelakaan mobil, yang berdampak besar pada skuad.
Apakah Raheem Sterling masih bermain untuk Feyenoord?
Sterling bergabung dengan Feyenoord pada Februari 2026 dengan kontrak hingga akhir musim 2025/26. Per Agustus 2026, laporan menunjukkan ia masih berada di klub dan semakin “fresh” serta antusias dengan perannya.
Apa gaya bermain yang diusung Iraola?
Iraola mengusung gaya high-press, agresif, dan vertikal. Ia ingin timnya bekerja keras, menekan lawan di area mereka sendiri, dan bergerak cepat ke depan setelah merebut bola.
Apakah Liverpool sudah kembali ke jalur juara?
Terlalu awal untuk mengatakan itu. Iraola baru memulai musim pertamanya. Liverpool masih dalam proses transisi, dan tantangan terbesar adalah membangun konsistensi intensitas selama satu musim penuh. Yang jelas, Iraola tidak dipecat untuk gagal; ia dipecat untuk membangun fondasi yang lebih tahan lama.
Kesimpulan: Identitas Lebih Penting daripada Rekor Awal
Lima kemenangan awal Slot adalah ilusi yang menyenangkan. Di baliknya, Liverpool kehilangan cara bermain yang membuat mereka ditakuti. Iraola datang bukan untuk mengulang sejarah, tetapi untuk memperbaiki fondasi yang retak.
Kisah Raheem Sterling di Feyenoord mengingatkan bahwa talenta individu tidak pernah cukup. Sterling pergi ke Belanda bukan untuk mencari uang, tetapi untuk menemukan peran yang jelas dalam sistem yang percaya padanya. Liverpool melakukan hal yang sama: mengganti pelatih bukan karena Slot gagal meraih hasil, tetapi karena klub butuh cara bermain yang bisa diidentifikasi oleh penggemar.
Masa depan Liverpool di era Iraola belum ditentukan oleh tabel klasemen Oktober. Ia akan ditentukan oleh apakah Anfield kembali merasa terhubung dengan tim di atas lapangan.










