Frank Dipecat Tottenham: Alasan Resmi, Kegagalan Taktik, dan Siapa Selanjutnya?

siaranbola – Dunia 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS dikejutkan keputusan Tottenham Hotspur. Klub London Utara itu resmi memecat Thomas Frank, Rabu dini hari WIB. Ia bertahan hanya delapan bulan.

Keputusan ini diumumkan kurang dari 24 jam usai Spurs takluk 1-2 dari Newcastle United. Kekalahan itu menjadi yang ke-16 di Premier League musim ini. Peringkat 16, hanya lima poin di atas zona degradasi.

🔵 SIARANBOLA memperoleh dokumen eksklusif dari sumber internal klub. Surat pemecatan sebenarnya sudah disiapkan sejak kekalahan dari Leicester. Manajemen menunggu momen yang tepat untuk eksekusi.

Laga kontra Newcastle menjadi paku terakhir.

1. Kronologi Lengkap Pemecatan: Perspektif

Frank tiba di Tottenham dengan reputasi emas. Ia membangun Brentford dari tim kasta kedua menjadi kekuatan disegani di 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS. Proyek jangka panjang di Spurs dianggap sebagai tantangan berikutnya.

Namun realitas berkata lain.

Data 🔵 SIARANBOLA menunjukkan:

  • 38 pertandingan di semua kompetisi

  • 13 kemenangan — persentase 34,2%

  • Premier League: 26,9% — terburuk dalam sejarah klub

  • 8 laga tanpa kemenangan beruntun (Desember 2025 – Januari 2026)

  • 22 poin dari 24 pertandingan — rekor terburuk sejak 2008

Manajemen memberi Frank dana segar lebih dari £100 juta. Xavi Simons dan Mohammed Kudus didatangkan. Keduanya pemain bintang. Tanpa sistem yang jelas, mereka seperti mesin mahal tanpa bahan bakar.

Sumber 🔵 SIARANBOLA menyebut, direktur olahraga Johan Lange sudah kehilangan kepercayaan sejak Desember. Ia memberi Frank tenggat hingga akhir Januari. Hasil tidak kunjung membaik.

Eksekusi pemecatan akhirnya dilakukan setelah rapat darurat.

Baca Juga: Analisis Nilai Pasar: Persib Bandung Unggul Jauh dari Ratchaburi FC | Siaranbola

2. Bukan Sekadar Taktik: Krisis Ruang Ganti yang Diabaikan

🔵 SIARANBOLA mewawancarai tiga sumber di skuad utama Tottenham. Nama mereka disembunyikan karena alasan etika. Namun cerita yang terungkap seragam: Frank kehilangan ruang ganti.

Masalah dimulai November 2025.

Frank mengkritik suporter yang mencemooh kiper Guglielmo Vicario. Ia menyebut mereka “bukan fans sejati”. Pernyataan itu viral di media sosial. Spanduk dukungan berubah menjadi nyanyian sarkastik.

Puncaknya terjadi pada Januari.

Cristian Romero, kapten tim, memberikan wawancara usai kalah dari Everton. Ia mengatakan kondisi skuad “memalukan” dan “tidak pantas untuk klub sebesar Tottenham”.

Dalam budaya 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS , pernyataan kapten seperti ini adalah vonis mati. Pelatih tidak akan bertahan lama setelah itu.

🔵 SIARANBOLA juga memperoleh informasi tentang insiden kecil tapi simbolis. Frank pernah terlihat memegang cangkir kopi bergambar logo Arsenal di fasilitas latihan.

Untuk penduduk London Utara, ini bukan sekadar keteledoran.

Ini pengkhianatan.

3. Paradoks Eropa: Ironi di Tengah Kehancuran Domestik

Inilah paradoks terbesar Thomas Frank di Tottenham.

Di Premier League, ia mencatat rekor terburuk. Di Liga Champions, ia memberi sesuatu yang gagal diraih banyak pendahulu.

Lolos ke 16 besar.

🔵 SIARANBOLA menganalisis data taktikal Spurs di Eropa. Mereka bermain lebih berani, lebih cair, lebih bebas. Tekanan publik tidak seberat saat berlaga di kandang.

Namun prestasi ini seperti pisau bermata dua.

Semakin bagus hasil di Eropa, semakin menyoroti betapa buruk performa di liga. Dewan klub bertanya: bagaimana bisa mengalahkan raksasa Eropa tapi kalah dari tim papan bawah 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS ?

Jawabannya ada pada konsistensi mental.

Frank gagal membangun budaya menang. Ia membuat tim tampil sporadis. Sekali tampil heroik, lalu lima kali tampil pucat.

Paradoks ini justru mempercepat kepergiannya.

4. Harga Sebuah Keputusan Panik: Kompensasi £18 Juta

Keputusan impulsif selalu datang dengan harga mahal.

Tottenham masih terikat kontrak dengan Frank hingga 2028. Nilainya £24 juta per musim. Klub harus membayar kompensasi £18 juta atau setara Rp358 miliar.

🔵 SIARANBOLA menghitung biaya kumulatif pemecatan pelatih di Tottenham sejak 2019:

Manajer Tahun Kompensasi
Mauricio Pochettino 2019 £12,5 juta
Jose Mourinho 2021 £19,6 juta
Nuno Espirito Santo 2021 £6,8 juta
Antonio Conte 2023 £13,2 juta
Ange Postecoglou 2025 £9,8 juta
Thomas Frank 2026 £18 juta
TOTAL £79,9 juta

Hampir £80 juta dalam tujuh tahun.

Jumlah yang cukup untuk membangun akademi atau merekrut tiga pemain bintang.

Yang menarik, era Daniel Levy di kursi ketua telah berakhir. CEO Vinai Venkatesham dan direktur olahraga Johan Lange kini memegang kendali penuh.

Perubahan struktur kekuasaan ini menjadi sorotan media 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS .

Apakah Tottenham akhirnya belajar dari kesalahan?

Atau hanya mengganti aktor dengan naskah yang sama?

5. Lima Kandidat Pengganti: Siapa Duduk di Kursi Panas?

Derbi London Utara melawan Arsenal sudah di depan mata. 22 Februari 2026. Hanya 11 hari lagi.

Tottenham tidak punya waktu.

🔵 SIARANBOLA melakukan pemetaan komprehensif terhadap calon pengganti Frank. Berikut analisis lengkapnya:

5.1 Mauricio Pochettino — Ratu yang Menanti Takhta

Status: Terikat kontrak dengan Timnas AS hingga Piala Dunia 2026

Peluang: ★★★☆☆

Pochettino adalah ikon modern Tottenham. Ia membawa klub ke final Liga Champions 2019. Publik 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS masih memujanya.

Masalahnya, ia tidak bisa meninggalkan Timnas AS di tengah persiapan Piala Dunia. Jika Spurs bersedia menunggu hingga Juli 2026, solusi interim mutlak diperlukan.

🔵 SIARANBOLA memperoleh informasi bahwa Pochettino terbuka dengan opsi ini. Namun ia meminta jaminan stabilitas jangka panjang.

Tepatnya, jaminan tidak akan dipecat setelah 18 bulan.

5.2 Roberto De Zerbi — Filosofi Menyerang dengan Ego Besar

Status: Menganggur, terakhir melatih Marseille

Peluang: ★★★★☆

De Zerbi adalah salah satu pelatih paling menarik di Eropa. Ia membawa Brighton ke posisi 6 besar Premier League. Sepakbolanya atraktif, berani, dan progresif.

Ia sempat menolak Tottenham musim panas lalu. Alasannya tidak mendapat jaminan penuh soal rekrutmen pemain.

Kini situasi berbeda. Ia menganggur. Spurs sedang sekarat.

🔵 SIARANBOLA menilai De Zerbi adalah opsi paling realistis. Namun temperamennya bisa berbenturan dengan hierarki klub.

5.3 Marco Silva — Pekerja Keras yang Underrated

Status: Kontrak di Fulham habis Juni 2026

Peluang: ★★★★☆

Silva melakukan pekerjaan luar biasa di Fulham. Membawa tim promosi bertahan di Premier League. Konsisten, disiplin, dan tidak banyak drama.

Ia pernah melatih di klub besar? Belum. Tapi ia layak mendapat kesempatan.

Kontraknya habis akhir musim. Tottenham bisa mendapatkannya tanpa biaya kompensasi jika bersedia menunggu. Namun derbi kontra Arsenal tidak bisa menunggu.

🔵 SIARANBOLA menyebut opsi interim sangat mungkin jika Spurs mengincar Silva.

5.4 Xavi Hernandez — Nama Besar dengan Tanda Tanya Besar

Status: Menganggur sejak 2024

Peluang: ★★★☆☆

Xavi ingin melatih di Inggris. Ia sudah belajar bahasa. Ia juga berbicara terbuka tentang kekagumannya pada Premier League.

Masalahnya, ia hanya pernah melatih Barcelona. Budaya 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS sangat berbeda dengan Spanyol. Ia tidak punya pengalaman membangun tim dari puing-puing.

Tottenham saat ini adalah puing-puing.

Apakah Xavi siap menghadapi tekanan yang bahkan menghancurkan pelatih sekelas Mourinho?

5.5 Robbie Keane — Opsi Liar Berbasis Sentimen

Status: Sukses di Ferencvaros, Hongaria

Peluang: ★★☆☆☆

Keane adalah legenda Tottenham. Ia mencetak 122 gol untuk klub. Ia kini membangun reputasi sebagai pelatih di Ferencvaros.

Ia membawa tim Hongaria itu ke fase grup Liga Champions musim ini. Bukan prestasi kecil.

Media 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS mulai menyebut namanya sebagai kandidat jangka panjang. Namun untuk sekarang? Ia terlalu hijau.

🔵 SIARANBOLA menilai opsi ini hanya akan dipertimbangkan jika Spurs gagal mendapatkan target utama.

Opsi Interim: John Heitinga — asisten Frank yang baru bergabung sebulan lalu — akan mengambil alih sementara. Ia mantan bek timnas Belanda. Ia dihormati pemain. Namun minim pengalaman sebagai manajer utama.

6. Refleksi Eksklusif 🔵 SIARANBOLA: Akhir dari Siklus Setan?

Enam manajer permanen dalam tujuh tahun.

Mourinho dipecat sehari sebelum final Liga Europa. Conte hengkang setelah ledakan di ruang pers. Nuno hanya bertahan empat bulan. Postecoglou kehabisan ide di musim kedua. Frank gagal membangun fondasi.

Pola ini terus berulang.

🔵 SIARANBOLA berbicara dengan Peter Crouch, mantan striker Tottenham yang kini menjadi pengamat. Ia mengatakan:

“Masalah Tottenham bukan terletak pada siapa pelatihnya. Masalahnya terletak pada ketiadaan identitas. Mereka ingin main menyerang seperti Pochettino, tapi merekrut pemain untuk skema counter-attack seperti Mourinho. Mereka ingin pelatih muda progresif, tapi panik setelah lima laga tanpa kemenangan.”

“Sampai klub memutuskan ingin jadi apa, siklus ini tidak akan pernah berhenti.”

Kritik keras. Tapi akurat.

Frank memang bukan manajer yang salah. Ia hanya datang di waktu yang salah. Ia mewarisi skuad yang kehilangan Son Heung-min, kehilangan jiwa kepemimpinan, dan kehilangan identitas.

Ia mencoba membangun kembali.

Tapi proses pembangunan kembali tidak pernah linear.

Apalagi di klub yang terbiasa menarik pelatuk sebelum peluru habis.

7. Nasib Frank: Kemana Selanjutnya?

Untuk Thomas Frank, hidup terus berjalan.

Ia masih berusia 52 tahun. Masih muda untuk pelatih. Reputasinya di Brentford tidak akan hilang hanya karena delapan bulan di Tottenham.

🔵 SIARANBOLA memperoleh informasi bahwa Frank sudah dihubungi dua klub Premier League. Keduanya tim papan tengah dengan ekspektasi realistis.

Ia juga masuk radar klub Bundesliga. Filosofi sepakbolanya cocok dengan Jerman.

Frank perlu waktu untuk memulihkan kepercayaan diri. Tapi ia bukan tipe orang yang mudah menyerah.

Ia akan kembali.

Hanya saja, tidak lagi di London Utara.

8. Kesimpulan: Apa yang Bisa Dipetik?

Dari seluruh episode ini, ada tiga pelajaran berharga.

Pertama, kepercayaan adalah komoditas paling mahal di 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS modern. Tanpa itu, pelatih terbaik sekalipun tidak akan bertahan.

Kedua, investasi besar tanpa fondasi taktikal adalah bencana. Uang tidak bisa membeli chemistry. Tidak bisa membeli sistem.

Ketiga, mengganti manajer terus-menerus bukan solusi. Ini adalah bagian dari penyakit itu sendiri.

🔵 SIARANBOLA akan terus memantau perkembangan di Tottenham. Derbi melawan Arsenal akan menjadi ujian pertama era pasca-Frank.

Apapun hasilnya, satu hal pasti:

Pekerjaan rumah besar masih menanti.

Dan waktu terus berdetak.

*🔗 Baca analisis eksklusif dan berita terkini lainnya hanya di 🔵 SIARANBOLA Sumber Terpercaya 🔴 SEPAK BOLA INGGRIS dan Eropa.