Mimpi yang Pahit: Mengurai Benang Kusut Kegagalan Kepulangan Messi ke Barcelona

siaranbola -Selama berbulan-bulan, bayangan itu menggantung. Sebuah narasi indah yang hampir terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan: Lionel Messi kembali ke Barcelona. Setelah dua tahun mengembara di Paris, sang legenda hidup akan pulang ke rumah, ke tempat di mana segalanya bermula. Media, fans, bahkan para pemain seolah menahan napas menanti finalisasi “dongeng yang direncanakan”. Namun, pada akhirnya, yang terjadi adalah kenyataan pahit yang memilukan. Messi memilih Inter Miami, dan mimpi itu pun buyar. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di balik layar kegagalan kepulangan yang paling dinantikan dalam sejarah sepak bola ini?

Banyak yang menyederhanakan masalahnya menjadi “Barcelona tidak mampu membayar.” Namun, akar permasalahnnya jauh lebih dalam, kompleks, dan menyangkut masalah struktural yang sudah lama menggerogoti klub.

BACA JUGA : Prediksi dan Analisis Pertandingan: Manchester City vs Bayer Leverkusen – 26 November 2025

Belenggu ‘Financial Fair Play’ La Liga: Dinding Baja yang Tak Terlalui

Messi Sadar Diri, Pensiun di Saat Sudah Tak Mampu Lagi

Ini adalah penghalang terbesar dan paling teknis. Barcelona, di bawah kepemimpinan Presiden Joan Laporta, terjebak dalam lingkaran setan aturan Financial Fair Play (FFP) La Liga. Singkatnya, La Liga memberlakukan batasan ketat tentang berapa banyak uang yang boleh dihabiskan klub untuk gaji pemain (termasuk biaya transfer dan bonus) berdasarkan pendapatan dan kesehatan keuangan mereka.

Barcelona, yang masih menanggung beban gaji monster dari era sebelumnya dan pendapatan yang terkikis, memiliki “salary cap” yang sangat minus. Untuk meregistrasi pemain baru—bahkan secara gratis seperti Messi—mereka harus terlebih dahulu memangkas massif pengeluaran gaji mereka atau menemukan sumber pendapatan baru yang signifikan.

Laporta dan direktur olahraga, Mateu Alemany, bekerja mati-matian dengan “palanca” atau tuas finansial—menjual aset klub seperti persentase TV rights dan studio Barca—untuk menciptakan ruang. Namun, upaya ini seperti mengejar bayangan. Setiap kali mereka mendekati angka yang diminta, targetnya seolah bergeser lebih jauh. Janji “kami akan membuatnya bekerja” dari Laporta akhirnya terbukti sebagai optimisme yang berlebihan di hadapan realitas matematika keuangan yang kejam. Messi tidak bisa menunggu selamanya sambil menunggu Barcelona “beres” dengan buku keuangannya.

Tawaran yang “Tidak Nyata” dan Kurangnya Proposal Konkret

Barcelona sangat vokal di media tentang keinginan mereka untuk membawa pulang Messi. Namun, menurut sumber-sumber dekat dengan sang pemain, yang tidak pernah datang adalah proposal resmi dan konkret.

Tidak ada dokumen berisi angka gaji, durasi kontrak, atau bonus yang ditandatangani. Yang ada hanyalah pembicaraan melalui media dan janji-janji lisan. Bagi Messi dan ayaknya sekaligus agen, Jorge Messi, situasi ini terasa terlalu familiar dan berisiko. Mereka masih trauma dengan kepergian pahit Messi pada 2021, yang juga diwarnai oleh janji-janji yang akhirnya tidak bisa dipenuhi.

Pada titik tertentu, kesabaran keluarga Messi habis. Mereka membutuhkan kepastian untuk masa depan, terutama mengingat usia Messi yang tidak lagi muda. Tawaran dari Barcelona, meskipun penuh emosi, adalah sebuah “mirage” di padang pasir—terlihat dari kejauhan, tetapi tidak nyata.

Trauma Masa Lalu dan Kepercayaan yang Retak

Episode 2021 meninggalkan luka yang dalam. Lionel Messi dipaksa pergi dengan konferensi pers perpisahan yang penuh air mata, sebuah pemandangan yang menyayat hati bagi siapa pun yang mencintai sepak bola. Pada 2023, skenario yang hampir mirip mulai terulang: klub yang sama, presiden yang sama (Laporta), dan ketidakpastian yang sama.

Bagi Messi, mengulangi pengalaman itu adalah risiko yang terlalu besar. Bagaimana jika dia menolak tawaran lain, lalu pada menit-menit terakhir Barcelona gagal meregistrasinya? Dia akan menjadi pemain tanpa klub. Kepercayaan kepada Laporta dan institusi Barcelona telah retak, dan retakan itu terlalu besar untuk disatukan hanya dengan kata-kata dan sentimentil.

Tawaran yang Lebih Masuk Akal dan Masa Depan yang Jelas

Sementara Barcelona berjuang dengan spreadsheet mereka, dua penawaran nyata terbentang di depan Messi: Arab Saudi dengan kontrak bernilai hampir setengah triliun rupiah per tahun, dan Inter Miami dengan proyek yang unik.

Inter Miami, yang dimiliki oleh David Beckham, menawarkan paket yang jauh lebih dari sekadar uang:

  • Ketenangan dan kualitas hidup untuk keluarganya di Miami, kota dengan budaya Latin yang kuat.

  • Kepemilikan saham di klub, yang membuka pintu bagi kepemilikan penuh di masa depan—sebuah investasi jangka panjang.

  • Kemitraan strategis dengan merek-merek global seperti Adidas dan Apple, yang meningkatkan brand Messi ke level berikutnya.

  • Tantangan baru yang tidak terlalu menekan: membangun legasi dan popularitas sepak bola di Amerika Serikat.

Dibandingkan dengan drama dan ketidakpastian di Barcelona, tawaran Inter Miami adalah opsi yang dewasa, terencana, dan menjanjikan stabilitas baik untuk karier maupun kehidupan pribadinya.

Kesimpulan: Kemenangan Akal di Atas Hati

Keputusan Messi untuk tidak kembali ke Barcelona bukanlah sebuah penolakan terhadap cinta. Ini adalah keputusan pragmatis dari seorang pria berusia 36 tahun yang telah belajar dari pengalaman pahitnya. Dia memilih jaminan di atas janji, stabilitas di atas drama, dan masa depan yang terencana di atas nostalgia yang berisiko.

Kegagalan kepulangan ini adalah cermin dari dua hal: kegagalan manajemen Barcelona dalam membereskan rumah tangganya sendiri, dan kedewasaan Messi yang memilih untuk tidak lagi menjadi “korban” dari kekacauan yang bukan buatannya. Kadang, kisah terindah adalah yang tidak pernah terwujud. Dan bagi Barcelona serta Messi, mungkin ini adalah penutup yang lebih sehat—sebuah akhir yang pahit, namun diperlukan, untuk sebuah babak yang sudah seharusnya berakhir.