siaranbola – Perdebatan Messi vs Ronaldo tidak pernah benar-benar usai.
Kali ini, Siaranbola mendapatkan pernyataan eksklusif dari Fabio Capello.
Pelatih legendaris asal Italia itu buka suara di program Hat-Trick, stasiun televisi ON Sport Mesir.
Capello menyebut Cristiano Ronaldo tidak memiliki ‘genius’ alami.
Ia menempatkan CR7 satu level di bawah Lionel Messi, Diego Maradona, dan Ronaldo Nazário.
Apa yang melandasi pendapat keras ini?
Mari simak analisis mendalam Siaranbola berikut.
BACA JUGA : Manchester City Pangkas Jarak dengan Arsenal Usai Hancurkan Fulham
Siaranbola Eksklusif – Mengapa Capello Singkirkan Ronaldo dari Kelas Dewa?
Capello tidak meragukan kapasitas CR7 sebagai atlet.
Ia menyebut Ronaldo Portugal sebagai “grande goleador”.
Namun, kata “genius” tidak pernah keluar dari mulutnya untuk CR7.
“Cristiano dibangun oleh determinasi. Messi lahir sebagai fenomena,” ujar Capello, dikutip dari FlashScore .
Siaranbola mencatat: ini bukan soal statistik.
Ini soal bagaimana pemain membaca ruang tanpa berpikir.
Capello percaya hal itu tidak bisa dilatih.
Bukan Messi Saja, Ronaldo Brasil Jadi Tolak Ukur
Menariknya, Capello tidak berhenti di Messi.
Ia justru menyelipkan Ronaldo Nazário (Ronaldo Brasil) di antara para dewa.
Pengalaman Capello Melatih Dua Ronaldo
Capello pernah menangani Ronaldo Brasil di Real Madrid.
Ia tahu betul bagaimana gaya hidup “O Fenomeno” di luar lapangan.
“Dia pemimpin negatif, suka pesta, malas latihan,” kenang Capello.
Tapi di lapangan? Ia adalah angin topan.
Berita bola hari ini menyoroti kejujuran Capello.
Ia lebih memilih pemain “nakal” berbakat daripada pekerja keras tanpa keajaiban.
Berita Bola Terkini – Ini Kata Capello Soal ‘Genius’ di Lapangan
Apa definisi “genius” versi Capello?
Ia memberi contoh: Diego Maradona.
“Maradona bisa menciptakan gol dari kekacauan,” kata Capello.
Kritik untuk CR7: “Dia Hebat, Tapi Bukan Fenomena”
Capello memuji etos kerja Ronaldo.
Ia menyebutnya sebagai atlet sempurna.
Namun, ia menegaskan:
“Fenomena seperti Pele dan Messi hanya lahir sekali dalam satu abad.”
Berita bola mencatat, pernyataan ini langsung menuai pro dan kontra.
Siaranbola Analisis: Kerja Keras vs Bakat Bawaan
Inilah inti perdebatan yang tak pernah usai.
Apakah sepak bola milik para genius?
Atau milik mereka yang tak pernah menyerah?
Siaranbola membedah dua kubu besar.
Mengapa Penting dalam Membaca Opini Pelatih Top?
Capello bukan sembarang komentator.
Ia memenangkan Scudetto bersama Milan, La Liga bersama Madrid.
Ia melatih Zidane, Ronaldo, Beckham, Shevchenko.
Pengalaman itu memberinya otoritas.
Ketika Capello bicara, itu bukan sekadar opini.
Itu adalah kesimpulan dari 40 tahun di ruang ganti.
Fakta atau Opini? Kapasitas Capello Bicara Ronaldo
Mari jujur.
Capello memang tidak pernah dekat dengan Cristiano Ronaldo.
Ia tidak melatih CR7 di Madrid atau di Italia.
Tapi ia tahu persis standar apa yang membuat pemain “abadi”.
Ia melihat Messi.
Ia melihat Maradona.
Ia melihat Ronaldo Brasil.
Dan ia tidak melihat Cristiano Ronaldo di level itu.
Berita bola tidak mewajibkan Anda setuju.
Tapi memahami sudut pandang Capello penting untuk memperkaya wawasan.
Kesimpulan Berita Bola: Dua Legenda, Dua Jalur Berbeda
Apakah Cristiano Ronaldo hebat?
Tentu. Mutlak. Tidak terbantahkan.
Apakah ia “genius” dalam definisi Capello?
Jawabannya: tidak.
Tapi itu tidak mengurangi apa pun.
Messi mewakili puisi.
Ronaldo mewakili prosa.
Keduanya tetap abadi.
Ikuti terus Siaranbola untuk berita bola terkini.
Dapatkan analisis taktik, wawancara eksklusif, dan opini dari para legenda.
Karena sepak bola tidak hanya soal siapa yang menang.
Tapi juga soal bagaimana kita menikmatinya.










