siaranbola – Sejak menjuarai Piala Dunia 2006 untuk keempat kalinya, performa Italia di turnamen sepak bola terbesar dunia justru mengalami penurunan drastis. Dalam empat edisi berikutnya, perjalanan mereka bisa diringkas dengan hasil yang mengecewakan: babak grup, babak grup, gagal lolos, dan kembali gagal lolos.
Catatan ini tentu terasa janggal bagi negara dengan sejarah sepak bola sebesar Italia.
Baca juga : Barcelona Raih ‘Ugly Win’ Kontra Rayo Vallecano, Hansi Flick: Yang Penting 3 Poin!

Kejayaan Euro Tak Menjamin Konsistensi
Italia sebenarnya sempat menunjukkan kebangkitan saat menjuarai Euro 2020 (yang digelar pada 2021). Namun, keberhasilan tersebut tidak berlanjut ke ajang Piala Dunia.
Bahkan, sejak tampil terakhir pada 2014, Italia belum berhasil kembali ke panggung Piala Dunia. Hal ini menjadi sorotan besar di kalangan penggemar dan analis sepak bola, termasuk di platform seperti siaranbola yang kerap membahas performa tim-tim besar dunia.
Gattuso Diberi Tugas Berat
Kini, harapan Italia berada di tangan Gennaro Gattuso, mantan gelandang tim juara 2006. Meski pengalaman melatihnya cukup luas menangani 10 klub dalam 12 tahun tantangan yang dihadapi kali ini jauh lebih besar.
Gattuso harus membawa Italia melewati babak play-off. Mereka dijadwalkan menghadapi Irlandia Utara pada 26 Maret di semifinal. Jika menang, Italia akan bertemu Wales atau Bosnia-Herzegovina pada 31 Maret untuk memperebutkan tiket ke turnamen besar berikutnya.
Pergantian Pelatih yang Tidak Stabil
Perjalanan Italia menuju Piala Dunia 2026 sudah diwarnai ketidakstabilan. Baru satu pertandingan kualifikasi berjalan, Luciano Spalletti sudah diberhentikan pada Juni 2025.
Padahal, Spalletti sebelumnya sukses membawa Napoli meraih gelar Serie A. Namun, saat menangani tim nasional, pendekatannya dinilai kurang efektif. Para pemain disebut merasa “bingung” karena terlalu banyak instruksi taktis yang diberikan.
Minimnya Opsi Pengganti
Menurut jurnalis sepak bola Italia, Daniele Verri, tidak banyak pilihan yang tersedia untuk menggantikan Spalletti. Nama Claudio Ranieri sempat dipertimbangkan, tetapi negosiasi tidak berlanjut.
Akhirnya, Gattuso dipilih sebagai solusi paling realistis. Keputusan ini mencerminkan kondisi darurat yang sedang dialami federasi sepak bola Italia.
Warisan Mancini dan Luka yang Tersisa
Sebelum era Spalletti, Roberto Mancini membawa Italia meraih kejayaan di Euro. Namun, kegagalan lolos ke Piala Dunia 2022 setelah kalah dari Makedonia Utara menjadi pukulan besar.
Mancini meninggalkan jabatannya pada 2023 dengan situasi yang kurang baik—sebuah keputusan yang kemudian disesalinya sebelum menerima tawaran melatih di Arab Saudi.
Harapan Baru atau Siklus yang Terulang?
Kini, semua mata tertuju pada Gattuso. Mampukah ia mengakhiri tren buruk Italia dan membawa mereka kembali ke Piala Dunia?
Para penggemar tentu berharap ini menjadi awal kebangkitan, bukan sekadar pengulangan kegagalan. Diskusi mengenai peluang Italia pun semakin ramai, termasuk di komunitas pecinta sepak bola seperti siaranbola.










