SIARANBOLA – Mantan pemain sayap Timnas Inggris, Raheem Sterling, mengaku bersalah atas tiga dakwaan terkait kecelakaan tunggal yang melibatkan mobil Lamborghini Urus miliknya pada 28 Mei 2026. Ia mengakui mengemudi secara berbahaya di beberapa ruas jalan tol di Inggris, memiliki gas tertawa (nitrous oxide) untuk dihirup, dan menolak memberikan sampel spesimen untuk dianalisis .
Pengakuan ini disampaikan di Basingstoke Magistrates’ Court pada 15 September 2026. Sterling kini menunggu vonis yang dijadwalkan pada 25 November 2026, sementara untuk sementara waktu ia telah didiskualifikasi dari mengemudi .
Baca Juga: Bagaimana Ruben Amorim Temukan Solusi untuk Masalah Lini Tengah AC Milan
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Kecelakaan terjadi pada pagi hari tanggal 28 Mei 2026. Sterling mengendarai Lamborghini Urus di M25, kemudian melanjutkan ke M3, A327, dan Minley Road sebelum akhirnya menabrak gerbang logam di sebuah layby (tempat istirahat di pinggir jalan) .
Rekonstruksi kejadian dari keterangan saksi mata:
-
Seorang pengendara, Fiona Jennings, melihat Lamborghini tersebut di M3 sekitar pukul 08.45 BST. Ia awalnya mengira yang mengembang di dalam mobil adalah airbag, tetapi kemudian menyadari itu adalah balon yang ditiup .
-
Jennings menggambarkan apa yang ia lihat sebagai “absolutely horrendous driving”—mobil swerving masuk dan keluar dari lajur .
-
Mobil akhirnya keluar dari jalan tol dan menabrak gerbang logam di A327. Tidak ada kendaraan lain yang terlibat dan tidak ada laporan cedera .
Pihak kepolisian Hampshire & Isle of Wight Constabulary menyatakan bahwa kecelakaan ini adalah single-vehicle collision dan Sterling ditangkap setelah kejadian .
Tiga Dakwaan yang Diakui Sterling
Sterling tidak hanya mengaku bersalah atas satu dakwaan. Ia mengakui tiga hal sekaligus di pengadilan:
-
Mengemudi berbahaya (dangerous driving) di M25, M3, A327, dan Minley Road. Ini bukan pelanggaran ringan seperti careless driving—kategori ini menunjukkan bahwa perilaku mengemudinya dinilai jauh di bawah standar yang wajar dan berpotensi membahayakan orang lain .
-
Kepemilikan nitrous oxide (gas tertawa) untuk dihirup secara salah. Ia kedapatan membawa enam tabung gas tertawa, yang di Inggris tergolong sebagai obat Kelas C.
-
Gagal memberikan spesimen untuk analisis. Setelah kecelakaan, pengemudi di Inggris diwajibkan memberikan sampel napas, darah, atau urin jika diminta oleh polisi. Menolak memberikan sampel adalah pelanggaran tersendiri.
Kombinasi tiga dakwaan ini menunjukkan bahwa kasus ini tidak sederhana. Mengemudi berbahaya saja sudah serius, tetapi ditambah dengan kepemilikan zat terlarang dan penolakan tes, posisi hukum Sterling menjadi lebih berat.
Mengapa Kasus Ini Penting bagi Publik Sepakbola?
Raheem Sterling bukan nama biasa. Ia adalah mantan pemain Liverpool, Manchester City, dan Chelsea dengan 82 caps untuk Timnas Inggris. Ia pernah menjadi salah satu pemain sayap paling tajam di Premier League dan meraih empat gelar liga bersama City.
Ketika seorang pesepakbola dengan profil seperti itu terlibat kasus pidana, dampaknya melampaui urusan pribadi. Ada tiga alasan mengapa publik sepakbola—termasuk penggemar di Indonesia—memperhatikannya:
-
Pesepakbola sebagai panutan. Banyak penggemar, terutama anak muda, melihat pesepakbola sebagai teladan. Kasus seperti ini memicu diskusi tentang tanggung jawab publik figur di luar lapangan.
-
Dampak pada karier. Kasus hukum bisa memengaruhi negosiasi kontrak, citra sponsor, dan kesempatan bermain di klub baru.
-
Preseden hukum. Kasus ini mengingatkan bahwa status selebriti tidak menghapus kewajiban hukum. Pengadilan Inggris menangani kasus ini melalui prosedur yang sama seperti warga negara lainnya.
Konteks Karier: Dari Manchester City ke Feyenoord, Kini Tanpa Klub
Untuk memahami mengapa kasus ini terasa lebih berat, penting melihat posisi Sterling saat ini.
Sterling meninggalkan Chelsea pada Januari 2026 setelah periode yang tidak berjalan mulus. Selama empat tahun di Stamford Bridge, ia mencatat 59 penampilan liga dan sempat dipinjamkan ke Arsenal pada musim 2024–2025. Ia kemudian bergabung dengan Feyenoord sebagai free agent pada Februari 2026.
Namun, masa baktinya di Eredivisie tidak berlangsung lama. Sterling hanya membuat delapan penampilan untuk Feyenoord, tanpa mencetak gol. Ia meninggalkan klub Belanda tersebut pada akhir musim 2025–2026 dan kini berstatus tanpa klub .
Artinya, saat kasus hukum ini bergulir, Sterling sedang berada dalam titik karier yang paling tidak pasti. Ia tidak memiliki klub yang bisa memberikan dukungan penuh, dan masa depannya di sepakbola profesional sedang dipertanyakan.
Apa Ancaman Hukumannya?
Menurut hukum Inggris, mengemudi berbahaya memiliki ancaman hukuman maksimal dua tahun penjara, denda tak terbatas, dan diskualifikasi mengemudi wajib.
Namun, penting untuk membaca ini dengan konteks:
-
Dua tahun adalah batas maksimal, bukan hukuman otomatis. Pengadilan memiliki diskresi untuk mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk tingkat bahaya, ada tidaknya cedera, dan sikap terdakwa.
-
Diskualifikasi mengemudi wajib. Untuk pelanggaran mengemudi berbahaya, pengadilan harus mencabut hak mengemudi, minimal 12 bulan. Sterling sudah didiskualifikasi sementara hingga sidang berikutnya.
-
Dakwaan tambahan bisa memengaruhi vonis. Kepemilikan nitrous oxide dan penolakan memberikan spesimen adalah pelanggaran terpisah. Masing-masing memiliki ancaman hukuman sendiri—penolakan memberikan spesimen bisa berujung pada enam bulan penjara.
Yang perlu dipahami: hakim akan mempertimbangkan keseluruhan pola perilaku, bukan hanya satu dakwaan. Mengemudi berbahaya sambil memiliki gas tertawa dan menolak tes memberikan gambaran yang tidak menguntungkan.
Apakah Ini Akhir Karier Sterling?
Terlalu awal untuk mengatakan itu. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan secara realistis:
-
Usia. Sterling saat ini berusia 31 tahun. Ia masih berada dalam rentang usia yang memungkinkan untuk bermain beberapa tahun lagi, tetapi ia tidak lagi muda untuk ukuran pemain sayap yang mengandalkan kecepatan.
-
Rekam jejak di lapangan. Delapan penampilan tanpa gol di Feyenoord bukan statistik yang menarik bagi klub-klub besar. Klub yang tertarik mungkin akan lebih berhati-hati.
-
Reputasi dan citra. Kasus pidana bisa membuat klub ragu, terutama klub yang sangat memperhatikan citra publik dan nilai sponsor.
-
Waktu. Vonis baru akan dijatuhkan pada November 2026. Sampai saat itu, ketidakpastian akan terus membayangi.
Yang jelas, Sterling menghadapi lebih dari sekadar pertanyaan hukum. Ia harus membangun kembali kepercayaan—baik di mata publik maupun di mata calon klub—setelah periode yang sulit di lapangan dan di luar lapangan.
FAQ
Apa itu mengemudi berbahaya dalam hukum Inggris?
Mengemudi berbahaya adalah pelanggaran di mana cara mengemudi seseorang jauh di bawah standar pengemudi yang wajar dan jelas berpotensi membahayakan orang lain. Ini berbeda dari careless driving, yang dianggap lebih ringan.
Apa hukuman maksimal untuk mengemudi berbahaya di Inggris?
Maksimal dua tahun penjara, denda tak terbatas, dan diskualifikasi mengemudi wajib minimal 12 bulan.
Apa itu nitrous oxide dan mengapa ilegal?
Nitrous oxide (gas tertawa) adalah obat Kelas C di Inggris. Memilikinya untuk dihirup secara salah adalah pelanggaran pidana.
Mengapa Sterling dihukum karena menolak memberikan spesimen?
Di Inggris, pengemudi yang terlibat kecelakaan wajib memberikan sampel napas, darah, atau urin jika diminta polisi. Menolak adalah pelanggaran tersendiri yang bisa berujung pada enam bulan penjara.
Apakah Sterling masih bermain sepakbola?
Sterling terakhir bermain untuk Feyenoord pada musim 2025–2026, dengan delapan penampilan tanpa gol. Ia meninggalkan klub tersebut pada akhir musim dan saat ini berstatus tanpa klub.
Kapan vonis untuk Sterling akan dijatuhkan?
Sterling dijadwalkan kembali ke pengadilan pada 25 November 2026.
Kesimpulan
Raheem Sterling mengakui tiga dakwaan dalam satu kasus kecelakaan tunggal: mengemudi berbahaya, kepemilikan gas tertawa, dan menolak memberikan spesimen. Pengakuan ini menempatkannya pada posisi hukum yang serius, dengan ancaman hukuman maksimal dua tahun penjara.
Namun, konteksnya lebih luas dari sekadar vonis. Sterling sedang berada di titik terendah kariernya—tanpa klub, dengan catatan penampilan minim di Feyenoord, dan kini menghadapi ketidakpastian hukum. Bagi penggemar sepakbola, kasus ini adalah pengingat bahwa bakat dan ketenaran tidak menghapus tanggung jawab pribadi.
Vonis pada November 2026 akan menjadi momen penting. Sampai saat itu, satu hal yang pasti: Sterling harus menghadapi konsekuensi dari keputusannya, baik di ruang sidang maupun di lapangan.










