Kontroversi “Juara Terburuk”: Mengapa Arsenal Menuai Kritik di Puncak Klasemen?

siaranbola – Perdebatan sengit sedang memanas di kalangan penggemar SEPAK BOLA INGGRIS. Di satu sisi, Arsenal berada di puncak klasemen Premier League dan berpeluang mengakhiri puasa gelar selama 22 tahun. Namun, di sisi lain, kritik tajam bermunculan yang menyebut bahwa jika The Gunners jadi juara, mereka layak menyandang predikat “juara terburuk dalam sejarah.” Mengapa bisa demikian? Apa kata statistik? SIARANBOLA merangkum analisis lengkapnya untuk Anda.

Kritik paling keras datang dari legenda Manchester United, Paul Scholes. Ia secara blak-blakan menyatakan bahwa Arsenal berpotensi menjadi juara dengan performa paling tidak impresif yang pernah ia saksikan. Pernyataan ini memicu diskusi besar di kalangan pengamat dan pendukung, mempertanyakan apakah statistik mendukung klaim kontroversial tersebut atau justru sebaliknya.

Baca Juga: Pedro Neto Masuk Radar Barcelona, Peran Agen Ini Bisa Jadi Kunci Transfer

Kontroversi “Juara Terburuk” yang Menggema di 2026

Pernyataan Paul Scholes yang Memantik Debat

Pada akhir Januari 2026, Paul Scholes menyebut dalam podcast ‘The Good, The Bad & The Football’ bahwa jika Arsenal menjuarai Premier League musim ini, mereka bisa menjadi tim juara terburuk dalam sejarah kompetisi. Argumennya sederhana: jika kita memilih 11 pemain terbaik musim ini, tidak ada satu pun pemain depan Arsenal yang masuk di dalamnya.

Jamie Carragher, legenda Liverpool, juga menyuarakan hal serupa. Ia menilai sangat tidak normal jika tim pemuncak klasemen tak memiliki satupun wakil di lini depan tim terbaik. Musim 2025-2026 ini, Arsenal dinilai terlalu bergantung pada situasi bola mati untuk mencetak gol, bukan dari aliran permainan terbuka yang indah.

Data di Balik Kritik Tumpul

Statistik membenarkan sebagian dari kritik tersebut. Hingga akhir Januari, Arsenal telah mencetak 26 gol dari situasi set piece, sebuah rekor tertinggi di lima liga top Eropa. Ketergantungan ini menjadi semakin terlihat saat performa para penyerang mereka justru menurun drastis di tahun 2026.

Data menunjukkan periode sulit yang dialami lini depan:

  • Bukayo Saka: 13 pertandingan beruntun di semua kompetisi tanpa gol.

  • Gabriel Martinelli: 13 laga beruntun di Premier League tanpa mencetak gol.

  • Leandro Trossard: Hanya mencetak 1 gol dalam 11 penampilan terakhir di semua ajang.

Performa Anjlok di Paruh Kedua Musim

Jika hanya lini depan yang tumpul, mungkin kritik “juara terburuk” tak akan sekeras ini. Masalahnya, seluruh tim mengalami penurunan performa drastis sejak pergantian tahun menuju Februari 2026.

Perbandingan statistik Arsenal sebelum dan sesudah 2026 sangat kontras. Berikut data yang dirangkum dari analisis Mundo Deportivo:

  • Agustus-Desember 2025: Hanya kebobolan 0.63 gol per laga dengan rata-rata 2.32 tembakan tepat sasaran yang dihadapi. xG lawan hanya 0.74.

  • Januari-Februari 2026: Pertahanan yang dulu kokoh mulai rapuh dan serangan kehilangan ketajaman. Mereka bahkan kehilangan 11 poin hanya dalam dua bulan pertama 2026.

Fenomena “late collapse” ini bukanlah hal baru. Mikel Arteta kembali menghadapi hantu masa lalu. Pada 2023 dan 2024, Arsenal juga mengalami penurunan performa di momen krusial dan akhirnya kehilangan gelar dari Manchester City dan Liverpool. Kini di 2026, pola yang sama terulang.

Bukan Sekadar “Bottle Jobs”, Ada Masalah Struktural

Menyebut Arsenal sebagai tim “bottle jobs” (gagal mempertahankan keunggulan) mungkin terdengar keras, tapi statistik 2026 membenarkan hal tersebut. The Gunners telah kehilangan tujuh poin dari situasi menang lebih dulu di tahun 2026. Hanya Crystal Palace yang lebih buruk dalam hal ini.

Salah satu contoh paling mencolok terjadi saat melawan Wolverhampton Wanderers pada pertengahan Februari 2026. Arsenal unggul 2-0 di babak pertama, namun kehilangan kendali di babak kedua dan harus puas bermain imbang 2-2. Mikel Arteta mengakui kekecewaannya dan menyalahkan timnya sendiri karena gagal mempertahankan standar permainan.

Martin Keown, mantan bek Arsenal, menyebutnya sebagai masalah mentalitas. “Anda bertanding melawan tim peringkat terbawah di liga, seharusnya Anda bisa menang, tetapi Arsenal melepaskan itu dari genggaman,” ujarnya kepada media setelah laga melawan Wolves.

Bantahan: Tetap di Puncak dan Faktor Cedera

Meski diterpa badai kritik, tak adil jika hanya melihat sisi negatif Arsenal. Faktanya, hingga awal Maret 2026, Arsenal masih kokoh di puncak klasemen. Superkomputer Opta bahkan memberikan peluang juara hingga 92,8% kepada The Gunners.

Tony Adams, legenda Arsenal, optimis timnya akan juara. Ia menilai persaingan musim ini berbeda. Menurutnya, Manchester City secara defensif tidak cukup kuat untuk bisa tiba-tiba meraih 10 kemenangan beruntun seperti musim-musim sebelumnya.

Selain itu, Arsenal harus bergelut dengan badai cedera yang menghantam skuad. Mikel Merino harus naik meja operasi dan diprediksi absen hingga akhir musim. Kai HavertzMartin Odegaard, dan Riccardo Calafiori juga sempat masuk ruang perawatan dalam waktu yang hampir bersamaan. Absennya sejumlah pilar ini jelas memengaruhi konsistensi permainan tim.

Tabel Perbandingan Performa Arsenal

Periode Rata-rata Gol/Diganjur Poin Hilang Catatan
Agustus-Des 2025 1.95 Pertahanan terbaik Eropa
Jan-Feb 2026 Menurun Drastis 11 poin Kalah dari MU, imbang lawan Wolves

Pertanyaan Besar Menjelang Akhir Musim

Mampukah Arsenal Menutup Musim dengan Gelar?

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab di lapangan. Dengan sisa laga yang semakin sedikit dan keunggulan poin yang cukup aman, Arsenal tetap berada di kursi pengemudi. Namun, jika mereka terus tampil seperti di awal 2026, bukan tidak mungkin keunggulan ini kembali lenyap.

Jika Juara, Apakah Layak Disebut Terburuk?

Ini subjektif. Secara statistik murni (poin akhir, jumlah gol), mungkin Arsenal tidak akan menjadi yang terburuk. Namun, jika dilihat dari kualitas permainan dan ketergantungan pada bola mati, gelar ini akan selalu memiliki tanda bintang di mata para kritikus.

FAQ – Pertanyaan Umum Seputar Performa Arsenal 2026

1. Apa alasan utama Arsenal disebut kandidat “juara terburuk”?

Alasannya adalah performa kurang impresif di lini depan dan ketergantungan berlebihan pada gol dari situasi bola mati atau set piece. Kritikus seperti Paul Scholes menilai tidak ada pemain depan Arsenal yang layak masuk dalam tim terbaik musim ini.

2. Bagaimana statistik Arsenal di tahun 2026?

Statistiknya menurun drastis. Mereka kehilangan banyak poin dari posisi unggul dan beberapa pemain kunci mengalami paceklik gol. Hingga Februari 2026, mereka sudah kehilangan 11 poin.

3. Apakah Arsenal masih berpeluang menjadi juara?

Ya, peluangnya masih sangat besar. Superkomputer Opta mencatat peluang Arsenal meraih gelar Premier League 2025-2026 mencapai 92,8%.

Kesimpulan

Perjalanan Arsenal menuju gelar Premier League musim ini penuh paradoks. Statistik membuktikan mereka dominan di paruh pertama, tapi juga menunjukkan kerapuhan di awal tahun 2026. Kritik “juara terburuk” mungkin berlebihan, namun bukan tanpa dasar.

Pada akhirnya, predikat juara tetaplah juara. Jika Bukayo Saka dan kolega berhasil mengangkat trofi di Mei 2026, sejarah akan mencatat mereka sebagai pemenang, terlepas dari bagaimana cara mereka mencapainya. Namun, untuk meyakinkan para pengkritik dan fans sepak bola pada umumnya, SEPAK BOLA INGGRIS menanti pembuktian bahwa mereka layak disebut juara sejati.